Semantik: Jenis Makna Semantik, Studi Komparatif antara Semantik Arab dan Semantik Indonesia


I.          PENDAHULUAN
Semantik adalah bidang ilmu bahasa yang membahas dan mempelajari tentang makna atau arti.[1] Arti semantik yang sedimikian rupa sama halnya dengan definisi dari pakar arab yang mana semantik diartikan sebagai [2]دراسة المعنى أو العلم الذي يدرس المعني (studi tentang makna atau ilmu yang mempelajari tentang makna).
Sekilas tampak persamaan diantara keduanya (semantik arab dan Indonesia). Apakah dari sini kita bisa berhipotesa bahwa materi yang dikaji oleh semantik arab sama halnya dengan materi yang dibahas dalam semantik Indonesia?. Sehingga orang indonesia yang ingin belajar sematik arab tidak perlu belajar semantik bahasa arab karena sudah tercakup dalam semantik indonesia tentang keuniversalannya.
Salah satu pembahasan dalam semantik adalah macam-macam makna. Penulis mencoba mengurai dan menjawab pertanyaan di atas melalui studi komparasi antara semantik arab dan indonesia mengenai macam-macam makna. Sehingga didapatkan perbedaan dan persamaan yang signifikan antar keduanya.

II.       DESKRIPSI
A.    Jenis Makna Menurut Pakar Arab
Menurut pakar bahasa dari Arab yaitu Dr. Achmad Muchtar Umar, mengklasifikasikan Makna menjadi beberapa jenis. Yaitu;
1.      Makna Dasar/Asasi(المعنى الأساسي) . Makna ini sering disebut juga sebagai makna awal (المعنى الأول), atau makna utama (المعنى المركزي), makna gambaran (المعني التصوري), atau makna pemahaman/conceptual meaning (المعنى المفهومي), dan makna kognitif (المعنى الإدراكي). Makna ini merupakan makna pokok dari suatu bahasa. Contohnya kata  “wanita” memiliki makna konseptual  “manusia, bukan laki-laki, baligh (dewasa)”.
2.      Makna Tambahan (المعنى الإضافي أو العرضي أو الثانوي أو التضامني), yaitu makna yang ada di luar makna dasarnya. Makna ini dapat dikatakan sebagai makna tambahan dari makna dasar namun makna ini tidak tetap dan perubahannya menyesuaikan dengan waktu dan kebudayaan pengguna bahasa.
Contohnya kata “wanita” yang memiliki makna dasar “manusia bukan lelaki yang dewasa”. Jika kata ini ditambahi dengan makna tambahan, maka banyak sekali makna yang akan timbul dari kata tersebut. Misalnya  jika kata “wanita” dimaknai oleh sebuah kelompok dengan “makhluk yang pandai memasak dan suka berdandan”, maka inilah makna tambahan yang keluar dari kata “wanita” tersebut. Atau jika “wanita” dimaknai dengan “makhluk yang lembut perasaannya, labil jiwanya, dan emosional”. Kedua makna tambahan ini tidak berlaku tetap sebagai makna tambahan dari kata “wanita”. Apabila suatu kelompok pada zaman tertentu menggunakannya maka makna tambahan itu masih berlaku. Namun jika makna itu sudah tidak dipakai lagi, maka makna tambahan itu tidak berlaku.
3.      Makna Gaya Bahasa/Style (المعني الأسلوبي), yaitu makna yang lahir karena penggunaan bahasa tersebut. Penggunaan bahasa dapat dilihat dalam bahasa sastra, bahasa resmi, bahasa pergaulan, dan lain sebagainya. Perbedaan penggunaan bahasa menimbulkan gaya yang berbeda dengan makna yang berbeda pula. Dalam bahasa sastra sendiri memiliki perbedaan gaya bahasa seperti gaya bahasa puisi, natsr, khutbah, kitabah, dan lain sebagainya.
Kata daddy digunakan untuk panggilan mesra kepada sang ayah, sedangkan father digunakan sebagai panggilan hormat dan sopan kepada sang ayah. Kedua kata ini ternyata berpengaruh terhadap penggunaan bahasa yang bermakna ‘ayah’ dalam bahasa Arab. Kata والدي dan الولد  digunakan sebagai bahasa sopan dan hormat.
4.      Makna Nafsi (المعنى النفسي) atau makna objektif, yaitu makna yang lahir dari suatu lafadz atau kata sebagai makna tunggal.
5.       Makna Ihaa’i (المعنى الإيحائي), yaitu jenis makna yang berkaitan dengan unsur lafadz atau kata tertentu dipandang dari penggunaannya. Dalam makna ini memiliki tiga pengaruh di antaranya sebagai berikut:
a.       Pengaruh suara (fonetis), contohnya seperti suara-suara hewan yang menunjuk langsung pada hewan itu.
b.      Pengaruh perubahan kata (sharfiyah) berupa akronim atau singkatan. Contohnya  بسمله singkatan dari بسم الله الرحمن الرحيم.
c.       Pengaruh makna kiasan yang digunakan dalam ungkapan atau peribahasa.[3]
Sedangkan menurut Hamid Khudlori makna diklasifikasikan menjadi empat macam. Diantaranya:
1.      Makna Fonetik (الدلالة الصوتية)
Adalah makna yang muncul karena adanya relevansi/ kesesuaian antara bunyi kata dengan makna yang ditunjuk bunyi tersebut. Pada makna tingkat fonetik ini, makna dapat berubah apabila salah satu huruf/ fonemnya juga berubah. Seperti kata كتب = ك + ت + ب dengan kata كسب = ك + س + ب. Kata pertama dengan jenis kata kerja lampau memiliki arti dalam bahasa indonesia “menulis” sedangkan kata kedua berarti mengerjakan.
Sedangkan contoh yang lain adalah penekanan/ stressing yang dalam bahasa Arab dikenal dengan النبر juga mempengaruhi makna kata.
2.      Makna Morfologis (الدلالة الصرفية)
Di dalam bahasa Arab kita mengenal perubahan derivatif dengan wazan-wazan yang telah ada dalam Ilmu Shorof. Seperti kata كتب yang berarti (dia sudah menulis) menjadi أكتب yang berarti “saya sedang menulis”. Di sini terlihat perubahan derivatif/ shorfi menjadikan makna kata berubah. Contoh lain seperti kata جميل yang artinya “cantik, indah, bagus” menjadi wazan أفعل menjadi أجمل yang artinya bisa menjadi “lebih cantik, paling cantik”
3.      Makna Sintaksis (الدلالة النحوية)
Adalah makna yang muncul ketika sebuah kata berada pada struktur kalimat tertentu yang terlepas dari makna tunggal. Seperti kata عين secara kamus bias berarti “mata”. Kata ini bias benar-benar berarti mata ketika masuk dalam sebuah kalimat. Seperi نظرت بعين “saya melihat dengan mata”.
4.      Makna Leksikal dan Sosial (الدلالة المعجمية والاجتماعية)
Makna leksikal sudah jelas yaitu makna kata ketika sendiri dan sesuai dengan kamus. Sedangkan makna sosial adalah makna yang muncul atau timbul dalam masyarakat. Seperti kata اليد secara leksikal berarti salah satu anggota badan dari batas ketiak sampai ke jari (makna dari Mu’jam Al-Wasith). Sedangkan orang Arab pada pembicaraan terkadang menggunakan kata tersebut seperti زيد طويل اليد kata طويل اليد  di sini berarti toleran.[4]

B.     Jenis Makna Menurut Pakar Indonesia
Abdul Chaer berpendapat bahwa jenis-jenis makna itu terbagi menjadi beberapa jenis makna, yaitu:[5]
1.   Makna Leksikal
Makna leksikal adalah makna sebenarnya, sesuai dengan hasil observasi indra kita, makna apa adanya dan makna yang ada dalam kamus. Maksud makna dalam kamus adalah makna dasar atau makna yang konret. Misalnya leksem “Kuda” memiliki makna sejenis binatang.
2.   Makna Gramatikal
Makna gramatikal adalah makna yang terjadi setelah proses gramatikal (Afikasi, Reduplikasi, Kalimatisasi).
 Perbedaan dari makna leksikal dan gramatikal adalah Makna leksikal adalah makna dasar/makna dari kata per kata, sedangkan makna gramatikal adalah makna baru yang muncul ketika kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat.
Contoh: kata “kuda” bermakna leksikal binatang sedangkan makna gramatikalnya bisa menjadi alat transportasi atau sejenis. Contoh, Saya berangkat ke pasar dengan kuda.
3.   Makna Kontekstual
Makna kontekstual adalah makna sebuah laksem atau kata yang berada didalam suatu konteks.
Misalnya, makna konteks kata kepala pada kalimat-kalimat berikut :
a.       Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.
b.      Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.
c.       Nomor teleponnya ada pada kepala surat itu.
4.   Makna Referensial
Makna referensial adalah sebuah kata yang memiliki referensnya/acuannya. Sehingga sebuah kata dapat disebut bermakna referensial kalau ada referensinya atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, dan gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata.
5.   Makna Non-referensial
Makna non-referensial adalah kata yang tidak mempunyai acuan dalam dunia nyata. Contohnya kata dan, atau, dan karena. Kata-kata tersebut tidak mempunyai acuan dalam dunia nyata.
6.   Makna Denotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah kata. Umpamanya, kata “Kurus”  (bermakna denotatif yang mana artinya keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal). Kata “Bunga”( bermakna denotatitif yaitu bunga yang seperti kita lihat di taman).
7.   Makna Konotatif
Makna konotatif adalah makna yang lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari seseorang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Umpamanya kata “Kurus” pada contoh di atas berkonotasi netral. Tetapi kata “Ramping”, yaitu sebenarnya bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotasi positif yaitu nilai yang mengenakkan ; orang akan senang kalau dikatakan ramping. Sebaliknya, kata “Kerempeng”, yang sebenarnya juga bersinonim dengan kata kurus dan ramping, mempunyai konotasi negatif, nilai rasa yang tidak enak, orang akan tidak enak kalau dikatakan tubuhnya kerempeng.
8.   Makna Konseptual
Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari Konteks atau asosiasi apa pun. Kata “Kuda” memiliki makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai”, dan kata “Rumah” memiliki makna konseptual “bangunan tempat tinggal manusia”.
9.   Makna Asosiatif
Makna asosiasi adalah makna kata yang berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian, kata merah berasosiasi berani, kata buaya berasosiasi dengan jahat atau kejahatan. Makna asosiasi ini sebenarnya sama dengan lambang atau perlambangan yang digunakan oleh suatu masyarakat pengguna bahasa untuk menyatakan konsep lain, yang mempunyai kemiripan dengan sifat keadaan, atau ciri yang ada konsep asal tersebut.
10.         Makna Kata
Makna kata adalah makna yang bersifatumum, kasar dan tidak jelas. Kata “Tangan” dan “Lengan” sebagai kata, maknanya lazim dianggap sama, seperti contoh berikut:
a.       Tangannya luka kena pecahan kaca.
b.      Lengannya luka kena pecahan kaca.
Jadi, kata tangan dan kata lengan pada kedua kalimat di atas adalah bersinonim atau bermakna sama.
11.         Makna Istilah
Makna istilah adalah makna yang pasti, jelas, tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat dan perlu diingat bahwa makna istilah hanya dipakai pada bidang keilmuan/kegiatan tertentu saja. Umpamanya, kata “Tangan” dan “Lengan” yang menjadi contoh di atas. Kedua kata itu dalam bidang kedokteran mempunyai makna yang berbeda. “Tangan” bermakna “bagian dari pergelangan sampai ke jari tangan”. Sedangkan kata “Lengan” adalah “bagian dari pergelangan tangan sampai ke pangkal bahu”. Jadi kata “Tangan” dan “Lengan” sebagai istilah dalam ilmu kedokteran tidak bersinonim, karena maknanya berbeda.
12.         Makna Idiom
Makna idiom adalah makna yang tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun gramatikal. Contoh, secara gramatikal bentuk “Menjual rumah” bermakna “yang menjual menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya”, tetapi dalam bahasa Indonesia bentuk “Menjual gigi” tidak memiliki makna seperti itu, melainkan bermakna “tertawa keras-keras”. Jadi makna tersebutlah yang disebut makna idiomatik.
13.         Makna Peribahasa
Peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya. Karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. Umpamanya, peribahasa “Seperti anjing dan kucing yang bermakna ihwal dua orang yang tidak  pernah akur. Makna ini memiliki asosiasi bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jika bersuara memang selalu berkelahi, tidak pernah damai.
Sedangkan menurut Dr. Sarwadi Suwandi makna dibagi menjadi beberapa macam. Diantaranya;
1.                Makna Leksikal
Leksikal berkaitan dengan leksem, kata atau leksikon dan bukan dengan gramatika. Leksikal merupakan kata sifat (adjektif) dari kata leksikon. Leksikon berpadanan dengan perbendaharaan kata dan kosa kata, sedangkan leksem dapat dipersamakan dengan kata. Kesatuan dari leksikon disebut leksem, yaitu satuan bentuk bahasa yang bermakna.
Makna leksikal adalah makna leksem ketika leksem tersebut beriri sendiri, baik dalam bentuk dasar upun bentuk derivasi dan maknanya kurang lebih tetap seperti yang terdapat dalam kamus. Menurut Kridalaksana makna leksikal dipunyai unsur-unsur bahasa lepas dari penggunaan atau konteksnya.
2.                Makna Gramatikal
Makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah leksem di dalam kalimat. Kridalaksana menyatakan bahwa makna gramatikal menunjuk pada hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam satuan-satuan yang lebih besar; misalnya hubungan antara kata dengan kata lain dalam frasa atau klausa.
3.                Makna Struktural
Berdasarkan pemaparan di atas kita ketahui bahwa pada dasarnya makna struktural tercakup dalam makna gramatikal. Kata yang satu dengan kata yang lain dapat membentuk relasi berupa kalimat. Makna kata-kata dalam satuan kalimat itulah yang kita sebut dengan makna struktural. Sebagaimana telah dinyatakan bahwa makna yang timbul akibat adanya peristiwa gramatik, baik antara imbuhan dengan kata dasar, antara kata dengan kata, maupun frasa dengan frasa, disebut makna gramatikal. Kridalaksana menggunakan istilah makna gramatikal, makna struktural, makna fungsional, dan makna internal dalam pengertian yang sama.
4.                Makna Konstruksi
Makna konstruksi adalah makna yang terdapat dalam konstruksi kebahasaan. Misalnya, makna milik atau kepunyaan di dalam bahasa Indonesia dapat dinyatakan dengan urutan leksem atau menggunakan akhiran kepunyaan. Kita dapat mengatakan /bukunya/, /cintanya/, /kemejamu/, /rumah nenek/, dan sebagainya.
5.                Makna Kontekstual
Makna kontekstual muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan situasi pada waktu ujaran dipakai. Dalam suasana kegembiraan dan kedukaan atau kesedihan tentu akan mempengaruhi pemilihan dan penggunaan leksem-leksem. Pada situasi kesedihan akan digunakan leksem-leksem yang bermakna ikut berduka cita, leksem-leksem yang menggambarkan rasa ikut belasungkawa. Demikian pula sebaliknya, pada situasi gembira ria tentu akan ikut merasakan kegembiraan tersebut.
6.                Makna Konseptual
Makna konseptual disebut juga makna denotatif. Makna konseptual dianggap sebagai faktor utama di dalam setiap komunikasi. Makna konseptual merupakan hal yang esensial dalam bahasa.
Sebuah makna konseptual dapat kita ketahui setelah menghubungkan atau membandingkannya pada tataran bahasa. Leech mengemukakan adanya dua prinsip, yaitu ketidaksamaan dan prinsip struktur unsurnya. Prinsip ketidaksamaan dapat dianalisis berdasarkan klasifikasi dalam tataran fonologi, setiap bunyi bahasa ditandai + (positif) kalau ciri dipenuhi dan ditandai – (negatif) jika ciri tidak dipenuhi.
Seperti leksem Bapak = + manusia, + dewasa, - perempuan. Leksem kursi = + terbuat dari kayu atau besi, + berkaki empat, + berfungsi sebagai tempat duduk, - manusia, - hewan.
7.                Makna Kognitif
Makna kognitif adalah aspek-aspek makna satuan bahasa yang berhubungan dengan ciri-ciri dalam alam di luar bahasa atau penalaran. Dapat juga dinyatakan bahwa makna kognitif adalah makna yang ditunjukkan oleh acuanya, makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia luar bahasa, objek, atau gagasan dan dapat dijelaskan berdasarkan analisis komponen.
Dalam makna kognitif, pembicara mengatakan apa adanya dan yang dimaksudkan juga apa adanya. Misal, jika mengatakan bangunan itu megah, maka kita secara langsung dapat melihat atau membayangkan sebuah bangunan yang megah. Kita belum mempersoalkan bangunan apa atau yang mana serta beberapa kemegahan itu.
8.                Makna Deskriptif
Makna deskriptif adalah makna yang terkandung di dalam setiap leksem. Makna deskriptif adalah makna yang ditunjukkan oleh referen lambangnya. Apabila kita menyatakan air, maka yang kita maksudkan adalah sejenis benda cair yang dapat kita gunakan untuk minum, mandi, mencuci, dan sebagainya. Jika kita mengatakan atau minta tolong “Ambillah segelas air” maka yang dibawa orang yang kita mintai tolong pasti air, dan bukan air lain, seperti air jeruk atau es teh.
9.                Makna Ideasional
Makna Ideasional adalah makna yang muncul sebagai akibat penggunaan leksem yang mempunyai konsep. Misalnya, kata partisipasi. Kita perlu mengetahui ide apa yang hendak ditampilkan di dalam leksem partisipasi. Untuk itu kita tidak saja perlu mencari makna leksem tersebut di dalam kamus, tetapi kita perlu ketahui penggunaanya dalam masyarakat bahasa, konsep dan idenya.
Leksem partisipasi antara lain mengandung ide “aktifitas maksimal seseorang untuk ikut dalam suatu kegiatan”. Berdasarkan ini kita dapat memikirkan bagaimana cara memotovasi seseorang untuk berpartisipasi, prasyarat-prasyarat apa yang harus dipersiapkan agar seseorang berpartisipasi, sanksi apa jika seseorang tidak mau berpartisipasi, dan sebagainya.
10.            Makna Referensial
Makna referensial adalah makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia luar, dan yang dapat dijelaskan oleh analisis komponen, makna referensial merupakan makna yang langsung berhubungan dengan acuan yang diamanatkan oleh leksem.  Misalnya “gunung”, kata ini mengacu pada tanah bukit yang sangat besar yang di dalamnya ada lahar panas atau sudah tidak mengeluarkan lava.
11.            Makna Asosiatif
Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata bertalian leksem itu dengan keadaan di luar bahasa. Misalnya, leksem /putih/ berasosiasi dengan makna “suci”, “kesucian”, “baik”, benar. Sedangkan /merah/ berasosiasi dengan makna berani. /srikandi/ berasosiasi dengan makna “pejuang wanita yang gigih dan pemberani”.
12.            Makna Pusat
Makna pusat adalah makna kata yang pada umumnya dimengerti bilamana kata itu diberikan tanpa konteks. Makna pusat juga disebut makna tidak berciri. Misal, kalau kita mendapatkan kata pergi, kepergian, bepergian, maka kata pergi merupakan makna pusat.
13.            Makna Luas
Makna luas mengacu pada makna yang terkandung pada sebuah leksem lebih luas dari yang kita perkirakan. Dapat dinyatakan bahwa makna luas adalah makna ujaran yang lebih luas dari pada makna pusatnya.
Contoh pernyataan “kami akan bertanding dengan penuh semangat demi sekolah kami”, maka yang dimaksudkan /sekolah/ adalah bukan hanya gedung, tapi mencakup siswa, guru, para pegawai atau karyawan sekolah yang bersangkutan.
14.            Makna Sempit
Makna sempit adalah makna yang lebih sempit dari pada makna pusatnya. Misal, makna ahli dalam /ahli sejarah/, makna kepala dalam /kepala sekolah/, makna sarjana dalam /sarjana hukum/, dan lain sebagainya.[6]

C.     Studi Komparatif Jenis Makna Menurut Pakar Arab dan Indonesia
Dari uraian di atas dapat kita asumsikan bahwa pakar arab mengklasifikasikan makna lebih genaral dibandingkan dengan para pakar indonesia. Yang akan kita coba komparasikan pada penjelasan berikut:
1.   Makna dasar (المعنى الأساسي) mencakup beberapa jenis makna dalam semantik bahasa Indonesia, seperti makna konseptual, makna pusat, makna referensial, makna kognitif, makna denotatif dan makna deskriptif.
2.   Makna Tambahan (المعنى الإضافي أو العرضي أو الثانوي أو التضامني) mencakup makna Ideasional, Asosiatif, konotatif, luas, sempit
3.   Makna Gaya Bahasa (المعني الأسلوبي) bisa disandingkan dengan makna peribahasa, makna istilah dan makna idiom.
4.   Makna Objektif (المعنى الإيحائي) makna ini mirip dengan makna leksikal yaitu sama-sama menunjukkan makna ketika belum berada dalam suatu konteks tertentu.
Dari uraian di atas dapat kita ketahui bahwa pakar bahasa di Indonesia lebih spesifik dalam hal mengklasifikasikan makna dari pada pakar Arab. Untuk itu disana terkadang terdapat perbedaan istilah jenis makna yang disebutkan. Seperti yang telah diuraikan di atas.

III.    KESIMPULAN DAN PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Salah seorang pakar bahasa Arab membagi makna menjadi beberapa macam seperti, makna dasar, makna tambahan, makna gaya bahasa, makna nafsi, dan makna Ihaai.
2.      Pakar Bahasa Indonesia membagi makna menjadi, leksikal, gramatikal, struktural, kontekstual, referensial, denotatif, konotatif, dll.
3.      Dari perbandingan di atas dapat dirumuskan bahwa macam-macam makna menurut ahli arab dan indonesia memiliki kesamaan. Macam-macam makna yang dikemukakan oleh pakar dari indonesia lebih spesifik, sedangkan pakar Arab lebih general. Seperti makna dasar yang mencakup makna konseptual, makna pusat, makna denotatif, makna kognitif, makna deskriptif dan makna referensial.
B.     Penutup
Sekian yang dapat kami sampaikan. Apabila dalam tulisan ini terdapat kesalahan. Baik berupa kesalahan dalam penulisan maupun ide yang mencakup bertentangan dengan logika akal, maka kami membuka diskusi untuk merumuskan dan mencapai titik temu yang bisa diterima oleh semuanya. Sekian terima kasih.



DAFTAR PUSTAKA
Sarwiji Suwandi, Semantik pengantar kajian makna, (Yogyakarta; Media Perkasa, 2008)

Muhammad Mukhtar Umar, Ilmu Al-Dilalah, (Cairo; Daar Al-kutub, 1985)

Ali Hamid Hudoyyar, Ilm Ad-Dilalah, (ttm, ttl)

Abdul Chaer, Linguistik Umum, 1994, (Jakarta: Rineka Cipta)

Muhammad Mahmud Dawud, Al-Arabiyah Wa Ilmu Al-Lughah Al-Hadis, (Cairo; Daar Ghorib, 2001)

J. D. Perera, Teori Semantik, (Jakarta; Erlangga, 2004)


[1] Sarwiji Suwandi, Semantik pengantar kajian makna, (Yogyakarta; Media Perkasa, 2008), hal. 9
[2] Muhammad Mukhtar Umar, Ilmu Al-Dilalah, (Cairo; Daar Al-kutub, 1985). hal. 11
[3] Muhammad Mukhtar Umar, Ilmu Al-Dilalah, hal. 36-41
[4] Ali Hamid Hudoyyar, Ilm Ad-Dilalah, hal. 12-14.
[5] Abdul Chaer, Linguistik Umum, 1994, (Jakarta: Rineka Cipta), hal. 289-297.
[6] Sarwiji Suwandi, Semantik pengantar kajian makna,.................hal. 68-78.

No comments:

Post a Comment

Pendekatam Pengkajian Islam : Analisis Buku "Bulan Sabit Terbit Dari Balik Pohon Beringin"

A.     PENDAHULUAN Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin, merupakan sebuah judul buku hasil penelitian terhadap pergerakan Muhamm...