I.
PENDAHULUAN
Teori-teori behavioristik yang telah
dikeluarkan oleh para ahli seperti skinner dan pavlov belum mencapai taraf
menerangkan proses pemerolehan bahasa pada kanak-kanak khususnya yang terkait dengan
kreatifitas bahasa. Analisis mereka tidak menjelaskan kompetensi linguistik
(pengetahuan tata bahasa) yang telah diinternalisasi oleh kanak-kanak dan
disimpan oleh otaknya, dan bagaimana kompetensi ini digunakan untuk membuat dan
memahami kalimat-kalimat baru yang belum pernah dibuatnya.
Dan tidak sedikitpun
menyentuh kemampuan bawaan manusia sebagai manusia yang berbahasa. Dari situlah
kemudian salah satu ahli dari Amerika yaitu Noam Chomsky dan para pakar Aliran Generatif-Transformational
mengkritisi dan melontarkan teori pemerolehan bahasa seperti teori Nativis dan
Kesemestaan Kognitif yang akan diuraikan sebagai berikut.
II.
DESKRIPSI
A.
Teori
Bawaan/ Nativis
Membicarakan tentang nativist
theory yang kemudian juga dikenal dengan hipotesis nurani tentu akan tidak
bisa lepas dari tokoh pelopor teori ini yaitu Lenneberg dan Chomsky. Kalau kita
ingat, salah satu hal yang dibicarakan oleh Chomsky adalah masalah Kompetensi
dan Performansi. Setiap penggunan bahasa, pasti memiliki kemampuan untuk
memahami dan memproduksi bahasa yang dimilikinya. Karena manusia telah
menyimpan tata bahasa dari bahasanya dalam nurani yang kemudian menjadi
kompetensi. Selain itu pengguna bahasa juga telah memiliki kemampuan performansi,
yaitu kemampuan untuk melaksanakan bahasanya. [1]
Teori Nativis atau Bawaan lahir
terutama sekali dari beberapa pengamatan yang dilakukan para pakar terhadap
pemerolehan bahasa kanak-kanak. Di antara hasil pengamatan tersebut antara
lain:
1.
Semua
kanak-kanak yang normal akan memperoleh bahasa ibunya asal saja diperkenalkan
pada bahasa ibunya itu. Maksudnya, ia tidak diasingkan dari ibunya
(keluarganya).
2.
Pemerolehan
bahasa tidak ada hubungannya dengan kecerdasan anak-anak. Artinya, baik yang
cerdas maupun yang tidak cerdas akan memperoleh bahasa itu.
3.
Kalimat
yang didengar kanak-kanak seringkali tidak gramatikal, tidak lengkap dan dalam
jumlah sedikit.
4.
Bahasa
tidak dapat diajarkan kepada makhluk lain; hanya manusia yang mampu berbahasa.
5.
Proses
pemerolehan bahasa oleh kanak-kanak di manapun sesuai dengan jadwal yang erat
kaitannya dengan proses pematangan jiwa.
6.
Struktur
bahasa sangat rumit, kompleks, dan bersifat menjagat. Namun demikian,
kanak-kanak dapat menguasainya dalam waktu yang relatif singkat, yaitu tiga
atau empat tahun saja.[2]
Berdasarkan
pengamatan di atas dapat disimpulakan bahwa manusia lahir dengan dilengkapi
oleh suatu alat yang memungkinkannya menguasai bahasa dengan mudah dan cepat.
Istilah Nativis
diambil dari pernyataan dasar mereka bahwa pemerolehan bahasa sudah ditentukan
dari sananya, bahwa kita lahir dengan kapasitas genetik yang mempengaruhi
kemampuan kita memahami bahasa disekitar kita, yang hasilnya adalah sebuah
konstruksi sistem bahasa yang tertanam dalam diri kita.[3]
Chomsky mengklaim
adanya properti-properti bahasa bawaan yang menyebabkan kanak-kanak mampu
menguasai bahasa aslinya di dalam waktu yang demikian singkat kendatipun sifat
sangat abstrak dari kaedah-kaedah bahasa. Kemampuan bawaan ini, menurut
Chomsky, menyatu di dalam suatu kotak hitam kecil yang dibawa kanak-kanak sejak
lahir, yang disebut “alat pemerolehan bahasa” atau language acquisition
device (LAD). Alat inilah, sekali lagi, yang menyebabkan anak memiliki
kemampuan untuk membuat hipotesis tentang struktur bahasa umum, dan tentang
struktur bahasa yang sedang dipelajari secara khusus[4].
McNeill (1966) memaparkan LAD meliputi empat perlengkapan linguistik bawaan:
1.
Kemampuan
membedakan bunyi wicara dan bunyi-bunyi lain di lingkungan sekitar.
2.
Kemampuan
menata data linguistik ke dalam berbagai kelas yang bisa disempurnakan
kemudian.
3.
Pengetahuan
bahwa hanya jenis sistem linguistik tertentu yang mungkin sedangkan yang
lainnya tidak.
4.
Kemampuan
untuk terus mengevaluasi sistem linguistik yang berkembang untuk membangun kemungkinan
sistem paling sederhana berdasarkan masukan linguistik yang tersedia.[5]
Cara kerja LAD
adalah sebagai berikut: apabila sejumlah ucapan yang memadai dari suatu bahasa
diberikan kepada seorang anak sebagai masukan (input) maka LAD tersebut akan
membentuk salah satu tata bahasa formal sebagai keluaran (output).
|
Ucapan-Ucapan Bahasa X
|
|
LAD
|
|
Tata Bahasa Formal Bhs X
|
|
Input
|
|
Output
|
Adanya
kenyataan bahwa walaupun masukan berupa ucapan-ucapan yang penuh dengan kalimat
salah, tidak lengkap, kanak-kanak mampu menguasai bahasa pertamanya, semakin
memperkuat teori nativis atau bawaan dengan LADnya. Eva Clark (1977) salah seorang
pakar pemerolehan bahasa berkesimpulan bahwa kanak-kanak tidak mungkin dapat
menguasai sintaksis bahasanya kalau mereka tidak dianugerahi suatu mekanisme
bawaan yang khusus untuk bahasa. Lebih jauh dari itu, Konsep LAD ini telah
merangsang penelitian pemerolehan bahasa sampai tingkat yang sangat tinggi.
Pusat perhatian mulanya diarahkan pada pemerolehan komponen sintaksis,
sedangkan peranan semantik dan kognisi kurang diperhatikan. Hal ini tidak
mengherankan karena teori generatif transformatif yang dikembangkan Avran
Chomsky memang hanya memusatkan perhatian pada keotonomian komponen sintaksis.
Jadi yang diperlukan LAD hanya masukan linguistik, sedangkan faktor-faktor non
linguistik seperti penglihatan, perasaan, dan juga pengetahuan bukan linguistik
(dianggap) tidak begitu penting untuk pemerolehan bahasa.
Eric Lennerbeg
(1967) berpendapat bahwasanya bahasa adalah perilaku yang bersifat
species-spesifik, dan mekanisme yang berkaitan dengan bahasa, secara biologik
telah ditentukan. Banyak bukti, katanya, yang menunjukkan bahwa kanak-kanak
menerima warisan biologik asli berupa kemampuan berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa yang khusus untuk manusia, dan dan yang tidak ada
hubungannya dengan kecerdasan dan pemikiran. Kanak-kanak, menurutnya, telah
memiliki (kesiapan) biologik tatkala kemampuan berpikirnya masih rendah.
Penelitian Lenneberg lebih jauh menunjukkan bahwa bahasa pada anak normal dan
anak cacat berkembang dengan cara yang sama. Bukti bahwa manusia telah
dipersiapkan secara biologik untuk berbahasa menurut lennberg adalah sebagai
berikut:
1.
Kemampuan
berbahasa sangat erat hubungannya dengan bagian anatomi dan fonologi manusia,
seperti bagian-bagian tertentu dari otak yang mendasari bahasa.
2.
Jadwal
perkembangan bahasa yang sama berlaku bagi semua kanak-kanak normal. Semua
kanak-kanak bisa diakatakan mengikuti strategi dan waktu pemerolehan bahasa
yang sama, yaitu menguasai lebih dahulu prinsip-prinsip pembagian dan pola
persepsi.
3.
Perkembangan
bahasa tidak dapat dihambat meskipun pada kanak-kanak yang menyandang cacat
tertentu seperti buta, tuli, atau memiliki orang tua pekak sejak lahir.
4.
Bahasa
tidak dapat diajarkan kepada makhluk selain manusia. Hingga saat ini belum ada
makhluk lain dapat menguasai bahasa walaupun telah diajar dengan cara-cara yang
luar biasa.
5.
Setiap
bahasa, tanpa kecuali, didasarkan pada prinsip-prinsip semantik, sintaksis, dan
fonologi yang menjagat.
Kemudian
perkembangan pemerolehan bahasa lebih lanjut dilakukan oleh para pakar dan
konsep LAD yang kurang memperhatikan tiga hal mulai diperhatikan yaitu; (1)
korpus ucapan, yang kini dianggap berfungsi lebih dari pada sekedar menggiatkan
LAD saja, (2) peranan semantik yang lebih penting dari pada sintaksis, (3)
peranan perkembangan kognisi yang sangat menentukan di dalam proses pemerolehan
bahasa.
Kenyataan yang
sangat mendukung teori bawaan ini datang dari masyarakat tuli Nikaragua. Sampai
menjelang tahun 1986, Nikaragua tidak memiliki pendidikan khusus dan bahsa
isyarat tertentu yang diperuntukkan bagi penyandang tunarungu. Saat pemerintah
Nikaragua berupaya mengatasi situasi ini, mereka temukan bahwa kanak-kanak yang
telah melampaui umur tertentu mengalami kesulitan belajar suatu bahasa. Lebih
dari itu, mereka amati bahwa kanak-kanak yang lebih muda menggunakan
isyarat-isyarat yang mereka tak kenal untuk berkomunikasi satu sama lain. Para
pengamat tersebut lalu mengundang Juge Kegl, seorang linguis Amerika, untuk
membantu menyingkap misteri ini. Kegl akhirnya menemukan bahwa kanak-kanak
tersebut telah mengembangkan bahasa isyarat sendiri dengan kaedah-kaedah
fonologi dan sintaksis khusus. Ia juga menemukan 300 orang dewasa yang,
walaupun tumbuh di lingkungan sehat, tidak pernah memperoleh bahasa, dan
menjadi tidak mampu belajar bahasa secara bermakna. Tatkala memungkinkan
diajarkan kosa kata, mereka tak mampu belajar sintaksis.[6]
B.
Teori
Kemestaan Kognitif/ Fungsional
Setelah beberapa saat konstruktivis
meningkatkan perspektif tentang kajian bahasa. Pola-pola penelitian menjadi
bergeser menuju esensi bahasa. Dua hal yang ditekankan adalah (1) para peneliti
mulai melihat bahwa bahasa hanyalah salah satu manifestasi kemampuan kognitif
dan afektif manusia dalam kaitannya dengan dunia, dengan orang lain, dan dengan
dirinya sendiri. (2) lebih jauh, kaidah-kaidah generatif yang ditawarkan oleh
kaum Nativis adalah abstrak, formal, eksplisit dan sangat logis, tetapi mereka
hanya bersentuhan dengan bentuk-bentuk bahasa dan tidak dengan makna, sesuatu
yang terletak pada tataran fungsional yang lebih mendalam, yang terbangun dari
interaksi sosial.[7]
Beberapa tokoh yang memberikan
sebuah kritik dan masukan untuk teori Nativis yang hanya menekankan pada aspek
nemtuk bahasa adalah Lois Bloom, Jean Piaget, dan Slobin. Ketiga tokoh tersebut
memberikan angin baru bagi studi bahasa anak, kali ini berpusat pada hubungan
perkembangan kognitif dengan pemerolehan bahasa pertama. Piaget menjelaskan
keseluruhan proses interaksi anak-anak dengan lingkungan mereka, dan antara
kapasitas kognitif mereka yang tengah berkembang serta pengelaman linguistik
mereka. Menurut Piaget, apa yang anak-anak
pelajari tentang bahasa ditentukan oleh apa yang mereka ketahui tentang
dunia.[8]
Dari sinilah muncul teori kesemestaan kognitif atau fungsional.
Di dalam
kognitivisme teori kesemestaan kognitif yang diperkenalkan oleh Piaget telah
digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan proses-proses pemerolehan bahasa
kanak-kanak. Piaget sendiri tidak pernah secara khusus mengeluarkan satu teori
mengenai pemerolehan bahasa karena beliau menganggap bahasa sebagai satu bagian
dari perkembangan kognitif (intelek) secara umum. Piaget memfokuskan diri hanya
mengkaji perkembangan kognitif umum ini, dan telah mengeluarkan hipotesis
tentang kemestaan kognitif, termasuk perkembangan bahasa. Teori perkembangan
kognitif pada kanak-kanak tersebut terdiri dari tiga periode: (a) motor
inderawi (sensory motor) (lahir-2 tahun), (b) praoperasional (2-7
tahun), terdiri dari 2 tahap: representasi atau intuisi terartikulasi (5,5-7
tahun), (c) operasional (7-15 tahun), terdiri dari operasional kongkrit (7-11
tahun), dan operasional formal (11-15 tahun). Temuan piaget tersebut telah
digunakan untuk membangun teori lain seperti teori perkembangan moral oleh
kohlberg, dan teori pemerolehan bahasa yang dikembangkan oleh para pengikut
Piaget di Jenewa, yang kemudian disebut dengan teori kesemestaan kognitif.
Menurut teori
kesemestaan kognitif, bahasa diperoleh berdasarkan tahap-tahap perkembangan
kognitif yang dikemukakan oleh Piaget di atas: motor-inderawi, praoperasional
dan operasional. Berdasarkan hal itu, urutan pemerolehan tersebut secara garis
besar adalah sebagai berikut:
1.
Antara
usia 0 sampai 1,5 tahun (sensory motor) kanak-kanak mengembangkan pola
aksi dengan cara bereaksi terhadap alam sekitarnya. Pola-pola inilah yang
kemudian diatur menjadi struktur-struktur akal (mental). Berdasarkan struktur
akal ini kanak-kanak mulai membangun satu dunia benda-benda yang kekal yang
lazim disebut kekekalan benda. Maksudnya, kanak-kanak telah mulai sadar
bahwa meskipun benda-benda yang pernah diamatinya atau disentuhnya hilang dari
pandangannya, namun tidak berarti benda-benda itu tidak ada lagi di dunia ini.
Dia sekarang tahu bahwa benda-benda itu dapat dicari dengan struktur aksi
tertentu. Misalnya, melihatnya ditempat lain.
2.
Setelah
struktur aksi dinuranikan/diinternalisasi, maka kanak-kanak memasuki tahap representasi
kecerdasan (preoperasional) yang terjadi antara usia 2 tahun sampai
7 tahun. Pada tahap ini kanak-kanak telah mampu membentuk representasi simbolik
benda-benda seperti permainan simbolik, peniruan, bayangan mental,
gambar-gambar, dan lain-lain.
3.
Setelah
tahap representasi kecerdasan, dengan representasi simboliknya, berakhir, maka
dengan memasuki tahap operasional bahasa kanak-kanak semakin berkembang
dengan mendapat nilai-nilai sosialnya. Struktur-struktur linguistik mulai
dibentuk berdasarkan bentuk-bentuk kognitif umum yang sebenarnya sudah mulai
dikembangkan sejak umur dua tahun.[9]
Menurut Piaget
(1955) ucapan holofrasis pertama selalu berbentuk pola-pola yang pada umumnya
mengacu kepada kanak-kanak itu sendiri. Umpamanya, kalau seorang kanak-kanak
usia 1,5 tahun mengucapkan kata “panana” (grand papa=kakek) maka dia
menginginkan seseorang melakukan sesuatu terhadap dirinya seperti yang biasa
dilakukan oleh kakeknya. Sesudah tahap ini barulah ucapan-ucapan yang
didasarkan pada aksi ini diperluas dengan uraian dengan peristiwa-peristiwa
atau sifat-sifat benda lain.
Dewasa ini
dalam kognitivisme, seperti juga dalam linguistik, perhatian lebih ditunjukan
pada masalah makna (semantik) serta peranannya dalam pemerolehan bahasa. Mc.
Namara (1972) mengatakan bahwa makna dan kode linguistik merupakan
dua wujud yang berlainan. Kode linguistik terdiri dari sekumpulan formatif dan
alat-alat sintaksis yang mempunyai fungsi untuk menghubungkan makna dengan
sistem fonologi bahasa itu. Meskipun berlainan makna dan kode linguistik itu,
dialami dan diperoleh secara bersamaan. Dalam hal ini, baik Piaget dan Mc.
Namara sama-sama berpendapat bahwa kanak-kanak lebih dahulu mengembangkan
proses-proses kognitif yang bukan linguistik. Setelah itu barulah mereka
memperoleh lambang-lambang linguistik itu. Jadi, pemerolehan bahasa bergantung
pada proses-proses kognitif itu.[10]
Berdasarkan
pandangan Piaget di atas Sinclair de Zwart (1973) mencoba merumuskan
tahap-tahap pemerolehan bahasa kanak-kanak sebagai berikut:
Pertama, kanak-kanak memilih satu gabungan bunyi pendek dari bunyi-bunyi
yang didengarnya untuk menyampaikan satu pola aksi.
Kedua, jika gabungan bunyi-bunyi pendek ini dipahami, maka kanak-kanak
itu akan memakai seri bunyi yang sama, tetapi dengan bentuk fonetik yang lebih
dekat dengan fonetik orang dewasa, untuk menyampaikan pola-pola aksi yang sama,
atau apabila pola aksi yang sama dilakukan oleh orang lain. Pola aksi ini pada
mulanya selalu mempunyai hubungan dengan kanak-kanak itu, dan di dalam pola
aksi itu selalu terjalin unsur, yaitu agen, aksi, dan penderita.
Ketiga, setelah tahap di atas muncullah fungi-fungsi tata yang pertama
yaitu subjek-predikat, dan objek
aksi, yang menghasilkan struktur:
Subjek – Verbal – Objek
Atau
Agen + Aksi
+ Penderita
Berdasarkan hal
itu, untuk memahami teori perkembangan Kognitif Piaget, terlebih dahulu kita
harus mengenal konsep “operasi”. Operasi adalah tindak mental yang melibatkan
penggunaan sistem atau struktur kognitif atau tepatnya skema untuk menangani
data baru. Data baru ditautkan dengan struktur kognitif dengan dua cara: (1)
asimilasi yaitu menautkan data baru ke struktur kognitif dengan langsung
mengasimilasikannya karena sudah sesuai dengan apa yang ada pada skema yang
ada, dan (2) akomodasi yaitu menautkan data baru ke struktur kognitif dengan
mengubah skema yang ada terlebih dahulu supaya sesuai dengan data baru
tersebut. Berdasarkan pemahaman tadi kemudian dikaitkan dengan tahap
perkembangan kognitif Piaget, kita dapat menyimpulkan secara lebih sederhana
bahwa kanak-kanak memperoleh bahasa pertamanya melalui dua tahap: (1) tahap
khusus bercirikan cara pemerolehan kanak-kanak yaitu pada tahap motor-inderawi
dan praoperasional, dan operasional kongkrit, (2) cara umum remaja dan dewasa
yaitu pada tahap operasional formal. Dua cara tersebut sejalan dengan pendapat
Ausubel yang secara tidak langsung membagi perkembangan bahasa anak menjadi dua
tahap yaitu: (1) tahap pembentukan konsep, yang berlangsung sampai anak meraih
satu atau dua ribu konsep, dan (2) tahap asimilasi konsep yaitu ketika
kanak-kanak lebih dominan meraih konsep dengan mengasimilasikan data baru ke
subsumber yang ada pada struktur kognitifnya.[11]
C.
Persamaan
dan Perbedaan
Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa sebenarnya diantara dua teori tersebut ada persamaan dan
perbedaan yang muncul. Adapun persamaanya adalah sebagai berikut:
1.
Kedua
teori tersebut termasuk dalam aliran Kognitivisme
2.
Kemampuan
berbahasa pada kedua teori tersebut sama-sama berdasarkan pada perkembangan
kognitif anak.
Sedangkan perbedaanya adalah sebagai berikut:
1. Teori bawaan lebih fokus pada tata bahasa sebagai hasil dari LAD sedangkan
teori kesemestaan kognitif menekankan pada perkembangan kognitif anak seiring
dengan perkembangan bahasa.
2. Ada alat pemerolehan bahasa yang khusus yang dinamakan LAD pada
teori Nativis sedangkan teori Kesemestaan Kognitif pada perkembangan kognitif
secara umum.
D.
Penerapan
dalam Pembelajaran
Teori nativis yang bermuara dari
Noam Chomsky bisa diterapkan dalam pembelajaran bahasa arab yaitu sebagai
berikut:
1.
Penghilangan/Delasi (الحذف) seperti lafaz:
كتب أحمد درسا جديدا menjadi: كتب أحمد درسا
2.
Penempatan
(الإحلال) seperti lafaz:
الله سميع عليم predikatnya ditempati
kata lain, sehingga menjadi: الله غفور رحيم
3.
Perluasan
( الإتساع)seperti
perluasan dengan sifat atau idhafah:
الجامعة مشهورة menjadi الجامعة الكبيرة
المشهورة
الباب مفتوح menjadi باب الفصل مفتوح
4.
Penyingkatan/reduction
(al-Ikhtisar):
رئيس القرية جديد menjadi الرئيس جديد
5.
Penambahan/additional
(aaz-ziyadah) yakni penambahan unsur baru dalam kalimat dengan struktur athfi
seperti:
الطالب نشيط menjadi الطالب والمدرس
نشيطان
6.
Pengulangan
urutan/permutation (I’adah at-tadrib) misalnya dengan merubah jumlah ismiyah
menjadi jumlah fi’liyah atau sebaliknya[12].
Seperti:
يحضر الطالب menjadi الطلاب يحضرون
Sedangkan penerapan Teori
Kesemestaan Kognitif terdapat pada buku Al-Barqi karya muhajir sulthan mengenai
pembelajaran membaca Al-Qur’an. Seperti kalimat:
سايا ماكان ناسي =
saya makan nasi
III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Teori
bawaan/nativis berisi tentang seorang anak tidak mungkin bisa memperoleh bahasa
pertama dengan waktu yang singkat tanpa adanya faktor bawaan dari lahir yang
dinamakan pada teori ini dengan LAD (Language Aquicition Device). Tugas LAD
adalah menyaring perkataan yang tidak lengkap menjadi struktur sintaksis secara
umum.
2.
Sedangkan
teori Kesemestaan Kognitif berisi mengenai kemampuan seorang anak dalam
berbahasa tergantung pada perkembangan kognitif anak. Yaitu ketika pada usia 0 -
1,5 tahun anak berada pada tahap motor inderawi yaitu anak mengatakan suatu
kata yang dimaksud berupa aksi. Pada usia 2 – 7 tahun anak mulai bisa membentuk
representasi simbolik. Sedangkan pada
usia setelahnya anak sudah mulai mengembangkan struktur linguirtik berdasarkan
bentuk-bentuk kognitif umum.
3.
Persamaan
dan perbedaan kedua teori tersebut adalah sebagai berikut:
persamaanya adalah sebagai berikut:
a.
Kedua
teori tersebut termasuk dalam aliran Kognitivisme
b.
Kemampuan
berbahasa pada kedua teori tersebut sama-sama berdasarkan pada perkembangan
kognitif anak.
Sedangkan perbedaanya adalah sebagai berikut:
a.
Teori bawaan lebih fokus pada tata bahasa
sebagai hasil dari LAD sedangkan teori kesemestaan kognitif menekankan pada
perkembangan kognitif anak seiring dengan perkembangan bahasa.
b.
Ada alat
pemerolehan bahasa yang khusus yang dinamakan LAD pada teori Nativis sedangkan
teori Kesemestaan Kognitif pada perkembangan kognitif secara umum.
4.
Adapan
kedua teori tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa arab. Teori
nativis dapat diterapkan pada pembelajaran kaidah bahasa Arab. Sedangkan teori
Kesemestaan Kognitif bisa diterapkan dalam pembelajaran fonologi bahasa Arab
seperti yang ada dalam buku Al-Barqi karya Muhajir Sulthan.
B.
Penutup
Sekian makalah yang dapat kami sampaikan. Pasti masih ada
kekurangan berupa tulisan yang keluar dari kaidah, ataupun isi yang tidak
sesuai dengan buku referensi. Maka penulis mengingikan bagi pembaca untuk
memberikan saran dan kritik yang membangun yang bisa memperbaiki makalah
menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Chaer, Psikolinguistik, (PT Rineka Cipta, Jakarta:
2009)
H.Douglas Brown, Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa,
(Kedubes Amerika, Jakarta:2008).
Henri Guntur Tariga, Psikolinguitik, (Angkasa, Bandung:
1986)
Mamluatul Hasanah, Proses Manusia Berbahasa, (UIN Malang
Press, Malang:2010)
Nazri Syakur, Proses Psikologik dalam Pemerolehan dan Belajar
Bahasa, (UIN Suka, Yogyakarta: 2008)
Purwa Atmaja Prawira, Psikologi Umum, (Ar-Ruzz Media,
Jogjakarta: 2012)
Soenjono Dardjowidjojo, Psiko-Linguistik, (Yayasan Pustaka
Obor Indonesia, Jakarta:2012)
[1] Mamluatul
Hasanah, Proses Manusia Berbahasa, (UIN Malang Press, Malang:2010) hlm.
66
[2] Nazri Syakur, Proses
Psikologik dalam Pemerolehan dan Belajar Bahasa, (UIN Suka, Yogyakarta:
2008)
[3] H.Douglas
Brown, Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, (Kedubes Amerika,
Jakarta:2008). Hlm. 30
[4] Nazri Syakur, Proses
Psikologik dalam Pemerolehan dan Belajar Bahasa,………hlm. 88
[5] H.Douglas
Brown, Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa,………..hlm. 31
[6] Nazri Syakur, Proses
Psikologik dalam Pemerolehan dan Belajar Bahasa,………hlm.91-92
[7] H.Douglas
Brown, Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa,………..hlm.35-36
[8] H.Douglas
Brown, Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa,………..hlm. 36
[9] Abdul Chaer, Psikolinguistik,
(PT Rineka Cipta, Jakarta: 2009). Hlm. 179
[10] Syakur, Proses
Psikologik dalam Pemerolehan dan Belajar Bahasa,………hlm.
[11] Nazri Syakur, Proses
Psikologik dalam Pemerolehan dan Belajar Bahasa,………hlm. 92-96
No comments:
Post a Comment