I. I. PENDAHULUAN
Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai anggota kelompok
masyarakat yang saling bertanya mengenai problematika kehidupan. Seringkali
problem tersebut tanpa disadari berkaitan dengan persoalan mendasar filsafat.
Untuk menjawab persoalan tersebut diperlukan pemikiran yang mendalam dan tidak
sesederhana sisi luarnya.
Akantetapi terkadang jawaban dari pertanyaan tersebut dapat dibuat sederhana sesuai dengan keinginan penanya yang menginginkan jawaban yang jelas. Jawaban secara mendalam tentang suatu objek itulah yang kita kenal dengan pengetahuan.
Akantetapi terkadang jawaban dari pertanyaan tersebut dapat dibuat sederhana sesuai dengan keinginan penanya yang menginginkan jawaban yang jelas. Jawaban secara mendalam tentang suatu objek itulah yang kita kenal dengan pengetahuan.
Pengetahuan merupakan khasanah hidup manusia yang secara langsung maupun tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita.
Sulit dibayangkan seandainya
pengetahuan tidak ada dalam kehidupan manusia, sebab pengetahuan merupakan jawaban setiap permasalahan dan
problematika hidup. Pada
akhirnya dalam hidup ini ternyata manusia tidak dapat melepaskan diri dari aktifitas berfikir untuk mengetahui
berbagai hal dalam kehidupan.
Tahu dan pengetahuan adalah dua kata yang memiliki arti yang berbeda. “Saya tahu benda itu adalah laptop”, tentu memiliki
muatan makna yang berbeda dengan
pernyataan, “Saya bisa merakit dan mengoperasikan laptop itu dengan sangat baik”. Secara sederhana bisa dikatakan
bahwa “pengetahuan”
memiliki makna yang lebih mendalam dibandingkan hanya sekedar “tahu”, karena pengetahuan –dalam bahasa ushul
fiqh- melibatkan aktifitas ijtihad, istimbath, dan pada akhirnya
melahirkan produk hukum seperti halal, haram, nadab dan sebagainya.
Dalam wilayah filsafat, hakikat “pengetahuan” membatasi diri pada
pengkajian objek empiris yang
berada dalam lingkup pengalaman manusia.
Bebeda dengan agama yang membahas mengenai hal-hal di luar pengetahuan empiris
manusia.
Maka pada makalah ini akan dijelaskan mengenai pengertian tahu dan
pengetahuan, jenis pengetahuan dan sumber pengetahuan sehingga dapat diketahui
apa hakikat sebenarnya dari penetahuan.
II.
II. DESKRIPSI
A.
Hakekat
Tahu dan Pengetahuan
Dalam pembahasan mengenai kata “tahu” dan “pengetahuan, kita tidak
akan terlepas dari kata yang serupa dalam bahasa Arab yaitu “al-ma’rifah” dan
“al-ilm”. Sedangkan dalam bahasa inggris dikenal dengan “science” dan
knowledge.Dalam Enslikopedia of philosophy dijelaskan bahwa definisi
pengetahuan adalah kepercayaan yang benar.
Sedangkan secara terminologi menurut Drs. Sidi Gazalba, pengetahuan
adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Sedangkan tahu tersebut
adalah hasil dari kenal, sadar, insyaf, mengerti, dan pandai.[1]sedangkan
menurut kamus besar bahasa indonesia “tahu” memiliki arti mengerti sesudah
melihat (menyaksikan, mengalami, dsb).
Dari definisi di atas kata “tahu” dapat dilakukan dengan beberapa
cara. Diantaranya tahu melalui panca indera, tahu melalui orang lain dan tahu
dengan menyimpulkan. Tahu dengan paca indera yaitu pengetahuan yang diperoleh
dari pekerjaan tahu dengan menggunakan panca indera. Seperti saya tahu mobil
yang ada di depan rumah itu berwarna merah. Saya sebagai subjek mempunyai informasi
mengenai mobil yang ada di depan rumah itu berwarna merah melalui indera mata.
Sekarang pertanyaan yang muncul adalah bagaimana jika objek tahu
bukan sesuatu dari hasil indera akantetapi sesuatu yang belum pernah
dialami.Seperti saya tahu tentang malaikat atau saya tahu Negara inggris
(padahal belum pernah berkunung ke inggris). Maka contoh-contoh ini termasuk
dalam kategori kedua yaitu tahu dari orang lain. Tahu tentang malaikat berarti
tahu dari buku atau dari orang yang mempunyai pengetahuan agama mengenai
malaikat. Apakah malaikat bisa dialami dengan panca indera?. Tentu saja
jawabanya tidak, maka orang yang tahu tentang malaikat pasti melalui perantara
orang lain atau perantara buku.
Kemudian jika objek tahu itu bukan merupakan hasil dari panca indra
atau perantara akantetapi hasil aktifitas akal terhadap beberapa objek yang
saling dikaitkan maka dari hal itu bisa disebut tahu melalui kesimpulan.
Seperti 5 + 5 adalah 10.
Dari penjelasan diatas kata tahu sangat erat kaitannya dengan
subjek dan objek.Dan tahu tidak dapat menjadi sebuah kata kerja kecuali ada
subjek sebagai pelaku pekerjaan dan objek sebagai sesuatu yang dituju.Lebih
lanjut informasi-informasi yang muncul dari pekerjaan tahu terhadap suatu objek
itu menjadi pengetahuan ketika sudah ada relevansi antara informasi dengan
fakta yang ada.
“Pengetahuan” mempunyai pengertian “knowledge : relation between
subject and object” (pengetahuan: Hubungan antara subjek dan objek).[2]Hubungan
antar subjek di sini tidaklah sederhana.Subjek punya peranan penting dalam
terwujudnya pengetahuan sedangkan objek juga begitu.Subjek dalam konteks ini
adalah manusia, sedangkan objek di sini adalah benda atau hal yang diselidiki
oleh pengetahuan.Keterarahan manusia terhadap objek jadinya merupakan faktor
yang sangat menentukan bagi munculnya pengetahuan manusia.Hanya saja perlu
dicatat bahwa keterarahan manusia terhadap objek ini hanya mungkin menimbulkan
pengetahuan kalau dalam diri manusia sebagai subjek sudah terdapat
kesamaan-kesamaan prinsip atau kategori tertentu yang memungkinkan manusia
dapat mengenal dan menangkap objek yang diamatinya.[3]
Pengertian lain yaitu menurut Mac Scheler pengetahuan dapat
dirumuskan sebagai partisipasi oleh suatu realita dalam suatu realita yang
lain, tapi tanpa terjadinya modifikasi-modifikasi dalam kualita yang lain itu,
sebaliknya subjek yang mengetahui dipengaruhi.[4]Inti
dari dua definisi di atas adalah adanya hubungan antara subjek dan objek.
Kemudian Harun Nasution juga memberikan penjelasan bahwa
pengetahuan pada hakikatnya adalah keadaan mental (mental state), artinya,
mengetahui sesuatu ialah menyusun pendapat tetang sesuatu itu; dengan kata lain
menyusun gambaran dalam akal tentang fakta yang ada diluar akal.[5]
Harun Nasution juga menuliskan dua teori mengenai hakikat
pengetahuan yaitu:
Pertama; realisme, paham ini mempunyai pandangan yang realistis
terhadap dunia. Pengetahuan menurut realisme adalah gambaran, atau kopi yang
sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata (dari fakta, atau dari hakikat).
Realisme berpendapat bahwa peengetahuan adalah benar dan tepat, sesuai dengan
kenyataan.
Kedua; idealisme, teori ini berpendapat bahwa mempunyai gambaran
yang benar-benar tepat dan sesui dengan kenyataan adalah mustahil. Pengetahuan
adalah proses mental, atau proses psikologis, dan ini bisa bersifat subjektif.
Oleh karena itu pengetahuan dari seorang idealis hanya merupakan gambaran
subjektif dan bukan objektif tentang kenyataan.[6]
Maka dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa hakikat tahu
adalah aktifitas mental subjek melalui indera, perantara dan melalui
penyimpulan.Sedangkan hakikat pengetahuan adalah aktifitas mental seseorang
terhadap suatu objek atau daya tangkap pikiran terhadap objek.
B.
Hakekat
Pengetahuan Menurut beberapa Aliran
1.
Idealisme
Bagi Descartes dan para pengikutnya dalam aliran ini, rasio atau
pikiran merupakan satu-satunya sumber dan jaminan pengetahuan.[7]
Jadi, dengan kata lain pengetahuan tentang sesuatu telah ada dalam dunia ide
yaitu rasio atau akal budi. Dan itulah pengetahuan yang sebenarnya atau hakiki.
2.
Empirisme
Hakikat pengetahuan bagi aliran empirisme adalah pengalaman.Apa
yang dialami itulah pengetahuan. Pengalaman inderawi sangat menentukan bagi
terbentuknya pengetahuan.
3.
Positivisme
Para penganut paham ini menolak adanya kenyataan yang berada di
luar pengalaman.Semua pengetahuan harus dapat dibuktikan secara empirik.Oleh
karena itu, dogma-dogma harus dihapus dan digantikan dengan pengetahuan yang
bersifat fakta.
4.
Pragmatisme
Bagi aliran ini hakikat pengetahuan ada pada manfaat praktisnya
bagi kehidupan. Suatu pengetahuan dapat dikatakan benar manakala ia dapat
dipergunakan bagi penyelesaian persoalan kehidupan manusia. Pengetahuan tidak
dapat dikatakan benar jika ia hanya benar berdasarkan pada kenyataan obektif
(empirik) ataupun subyektif. Secara singkat dapat dikatakan bahwa aliran ini
menafikan kedua aliran lainnya, yaitu idealisme atau rasionalisme dan empirisme
atau positivisme.
C.
Sumber
Pengetahuan
Menurut Dedik F. Anwar dalam makalahnya yang berjudul “Hakekat Tahu
dan Pengetahuan” disebutkan bahwa sumber pengetahuan adalah sebagai berikut:[8]
1.
Sumber
pengetahuan filsafat adalah :
a.
Otoritas
Otoritas adalah kewenangan yang dimiliki oleh orang tertentu yang
dianggap memiliki pengetahuan terhadap sesuatu.Karena pengetahuan yang didapat
dari orang yang memiliki otoritas di bidangnya, pengetahuan itu mengandung
makna yang mendalam.
b.
Persepsi
indrawi
Indra merupakan alat yang menjadi sebab atau perantara untuk
memperoleh pengetahuan. Sesuatu yang bisa didengar, dicium, diraba, dan
dicicipi, merupakan proses pembentukan pengalaman kongkret dan akhirnya
membangun pengetahuan. Dari sumber inilah kemudian muncul teori “Empirisme”,
dimana pengetahuan diperoleh dengan perantaraan pancaindra.
c.
Akal
Tidak bisa disangkal bahwa akal merupakan faktor penting sebagai
sumber pengetahuan.Akal memiliki kemampuan untuk mengungkapkan kebenaran dengan
diri sendiri, dan pengetahuan itu diperoleh dengan membandingkan ide dengan
ide. Dalam agama, akal memiliki peran vital untuk memahami wahyu, tanpa akal
wahyu hanya akan menjadi teks yang mati. Oleh karena itu, banyak sekali
teks-teks wahyu yang sangat menghargai orang yang berakal.Dari sumber ini
kemudian juga memunculkan teori “Rasionalisme”, yang mengatakan bahwa sumber
pengetahuan diperoleh dengan perantara akal.Akal memang terlebih dahulu
menangkap objek/ data dari pancaindra, namun akallah yang mengolah data yang
satu dengan data yang lainnya, sehingga hadirlah yang disebut dengan pengetahuan.
d.
Intuisi/
ilham
Intuisi merupakan sumber pengetahuan yang diperoleh secara langsung
dalam diri seseorang tanpa melalui proses pemikiran secara sadar dan persepsi
langsung.
2.
Sumber pengetahuan agama tidak jauh berbeda
dengan sumber pengetahuan filsafat. Akan tetapi pengetahuan agama mengharuskan
sumber pengetahuan itu berasal dari Khabar yang Benar ( الخبرالصادق ), artinya otoritas pengetahuan agama –terutama islam- adalah
Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Pendapat orang terpercaya.
III.
III. KESIMPULAN
DAN PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Hakekat
tahu adalah aktifitas mental subjek melalui panca indera, perantara (manusia,
buku, dll) dan penyimpulan. Sedangkan hakikat pengetahuan adalah keadaan mental
seseorang terhadap suatu objek atau daya tangkap pikiran terhadap objek.
2.
Hakekat
pengetahuan dalam pandangan Rasionalisme b erupa ide.
Sedangkan menurut empirisme adalah pengalaman indera. Menurut positivisme
berupa sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik. Dan pragmatisme mengaggap
hakikat pengetahuan adalah sesuatu yang bisa digunakan secara praktis.
3.
Sumber
pengetahuan dapat dikategorikan menjadi:
a.
otoritas.
b.
Persepsi
inderawi.
c.
Akal.
d.
Intuisi.
B.
Penutup
Sekian
makalah yang dapat kami sampaikan, jika dalam makalah ini terdapat uraian
ataupun penjelasan yang kurang dimengerti ataupun terdapat beberapa pernyataan
yang tidak sesuai dengan kaidah rasio kita, maka kami membuka diskusi lembih
lanjut untuk menemukan solusi yang tepat.sedangkan apabila terdapat tulisan
maupun kata-kata yang kurang tepat maka kritik dan saran yang membangun untuk
makalah ini sangat diperlukan. Sekian dari kami.Terimakasih
DAFTAR PUSTAKA
A.
Sonny Keraf dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis,
(Yogyakarta: Kanisius, 2001)
Bachtiar,
Amsal. Filsafat Ilmu. (Jakarta, PT Grafindo Persada, 2012)
Betrand Russel, tarj. Persoalan-Persoalan Seputar Filsafat,
(Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002)
Dedik
F. Anwar. Makalah yang berjudul “HAKIKAT TAHU DAN PENGETAHUAN (Telaah Terhadap
Hakikat “Pengetahuan” dalam Kajian Agama dan “Pengetahuan” dalam Kajian
Filsafat)”.Diunduh di http://true-educate.blogspot.com/2012/12/hakikat-tahu-dan-pengetahuan-telaah.html.
tgl. 01-11-2013/08.44.
Endang
Saefudin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama, (Surabaya: PT Bina Ilmu,
1987).
Harun
Nasution, Falsafat Agama, (Jakarta : PT Bulan Bintang, 2003),
I.
R. Poedjawijatna, Tahu dan Pengetahuan Pengantar ke Ilmu dan Filsafat, (Jakarta
: Bina Aksara, 1982)
J.
Sudarminta, Epistemologi Dasar Pengantar Filsafat Pengetahuan,( Yogyakarta:
Kanisius, 2002)
M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian,
(Bandung:Mandar Maju, 1994)
Mundiri, Logika, (Semarang: IAIN Walisongo, 1994)
Suhartono, Suparlan, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jogjakarta,
Ar-Ruzz, 2005)
[1]
Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta, Pt Raja Grafindo Persada,
2012). Hlm. 85.
[2] Endang
Saefudin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama, (Surabaya: PT Bina Ilmu,
1987). Hlm. 43.
[3] A. Sonny Keraf
dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis,
(Yogyakarta: Kanisius, 2001) hlm. 20.
[4] Endang
Saefudin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama…..hlm. 44.
[5] Harun
Nasution, Falsafat Agama, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2003), hal. 7.
[7]J.
Sudarminta, Epistemologi Dasar Pengantar Filsafat Pengetahuan,( Yogyakarta:
Kanisius, 2002) hlm. 52
[8] Dedik F.
Anwar. Makalah yang berjudul “HAKIKAT TAHU DAN PENGETAHUAN (Telaah Terhadap
Hakikat “Pengetahuan” dalam Kajian Agama dan “Pengetahuan” dalam Kajian
Filsafat)”.Diunduh di http://true-educate.blogspot.com/2012/12/hakikat-tahu-dan-pengetahuan-telaah.html.tgl.
01-11-2013/08.44.
No comments:
Post a Comment