Pendekatam Pengkajian Islam : Analisis Buku "Bulan Sabit Terbit Dari Balik Pohon Beringin"

A.    PENDAHULUAN
Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin, merupakan sebuah judul buku hasil penelitian terhadap pergerakan Muhammadiyah di Kotagede yang ditulis oleh Mitsuo Nakamura[1]. Penelitian ini dalam pandangan A. Mukti Ali[2] pada mulanya berangkat dari paradoks berikut ini:
pertama, Muhammadiyah sebagai suatu usaha teratur untuk membersihkan Islam Jawa dari campuran adat dan kepercayaan setempat yang heteredoks, ternyata memperoleh dukungan yang kuat di tengah-tengah masyarakat setempat dimana unsur-unsur heterodoks telah sangat mengakar dalam bentuk cara pemujaan raja. Kedua, adanya sejumlah pedagang Jawa yang kaya dan pengrajin di Kotagede sebelum tahun 1900, yang kekayaanya, ketrampilan berwiraswasta dan jaringan bisnisnya sangat mengesankan. Akantetapi akibat gangguan belanda yang menjadikan Cina sebagai perantara antara Asia dan Eropa menjadikan perdagangan di Jawa menjadi turun drastis. Selanjutnya kelas sosial yang didasarkan pada perdagangan dan industri di kalangan masyarakat Jawa –penguasa dengan para bangsawan dan priyayi disatu pihak dan petani di puhak lain- tidak mendapatkan kedudukan yang sah di dalam masyarakat, dengan tidak memberikan tempat bagi kelas pedagang.
Kedua paradoks diatas memunculkan paradoks yang ketiga, yaitu pedagang dan pengrajin Kotagede bukan santri, muslim yang saleh, sebelum ada Muhammadiyah. Mereka kebanyakan abangan. dan paradoks keempat, pernah terdapat suatu proses yang sejajar dan saling mendorong antara pertumbuhan kewiraswastaan pribumi di satu pihak dan reformis Islam di pihak lain di zaman Muhammadiyah sebelum perang di Kotagede. Akan tetapi proses tersebut ternyata berakhir dengan jatuhnya pemerintah Kolonial Belanda di tahun 1942. Perang, revolusi dan kekacauan-kekacauan politik dan ekonomi telah menghilangkan kesempatan para wiraswasta Kotagede untuk merebut kembali tingkat kekuatan ekonomi pra Perang kecuali beberapa orang saja.
Dilihat dari paradoks tersebut, Rupanya Dr. Nakamura ingin membuktikan bahwa pandangan-pandangan beberapa penulis Barat tentang Islam modern di Indonesia tidak tepat. dan dia sampai pada kesimpulan Bahwa Islam ortodoks dalam bentuk pergerakan reformasi, Muhammadiyah, telah muncul dari dalam Islam Jawa tradisional sebagai transformasi intern lebih daripada sebagai ideologi baru yang diimpor dan yang telah, sedang dan akan membawa perubahan-perubahan yang mendalam dalam aspek-aspek sosial, kebudayaan, ekonomi dan politik kehidupan orang Jawa.
Pandangan yang dinyatakan disini nampaknya bertentangan dengan anggapan yang tersebar luas dikalangan sarjana tentang indonesia kontemporer yang menyatakan bahwa Islam, terutama versi reformis, telah kehilangan kekuatan politiknya.
Disini penulis makalah tidak akan membicarakan lebih lanjut secara mendetail mengenai penelitian yang telah dilakukan oleh Mitsuo Nakamura terhadap pergerakan Muhammadiyah di Kotagede, melainkan akan membahas mengenai pendekatan yang digunakan oleh Mitsuo Nakamura dalam mengkaji pergerakan Muhammadiyah di Kotagedhe dengan memaparkan bukti-bukti yang ada di dalam buku “BULAN SABIT MUNCUL DARI BALIK POHON BERINGIN”.

B.     PERGERAKAN MUHAMADIYAH DI KOTAGEDHE
Untuk mengawali pembahasan kita mengenai pergerakan Muhammadiyah di Kotagedhe oleh Mitsuo Nakamura, kita perlu membahas judul buku hasil penelitian tersebut. Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin. Bulan Sabit menjelaskan mengenai sesuatu yang bersinar menerangi masyarakat yang dalam hal ini Muhammadiyah. Sedangkan Pohon Beringin merupakan representasi terhadap agama keraton yang masih membawa adat budaya abangan/kejawen. Jadi dengan judul ini Mitsuo Nakamura ingin mengungkapkan sebuah pergerakan islam (Muhammadiyah) dalam rangka pembersihan terhadap budaya-budaya kejawen yang dianggap menyimpang dan pergerakan tersebut muncul dari dalam kompleks budaya agama kraton yang dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan (yang menjabat sebagai ketib di Masjid Keraton).
Nakamura memulai pembahasan pada buku ini mengenai kondisi masyarakat di Kotagedhe dengan menggunakan data-data sejarah dan penjelasan antropologis. Seperti pada mulanya ia membicarakan mengenai awal mula berdirinya Kotagedhe, Kemudian menjelaskan hubungan kerajaan dengan makam dan pasar, selanjutnya menjelaskan sistem pemerintahan tradisional di Kotagedhe beserta  kondisi ekonominya. Pembahasan pada permulaan ini dimaksudkan untuk mempertajam analisis pada pembahasan bab-bab berikutnya.
1.      Abdi Dalem Santri di Kauman
Nakamura menjelaskan mengenai awal mula berdirinya Muhammadiyah. Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan (salah seorang santri yang bertugas pada sultan Yogyakarta). Dia merupakan salah seorang dari duabelas ketib (khatib, pemberi khutbah Jum’at) Masjid Besar Yogyakarta. Dia tinggal di distrik Kauman, Yogyakarta, memberikan pelajaran agama di rumahnya. Pendidikan agamanya didapat dari ayahnya sendiri yang juga seorang ketib dan juga dari banyak guru di berbagai pondok pesantren.
Muhamadiyah berdiri pada tanggal 18 November 1912 dengan tujuan pada anggaran dasar sebagai berikut; 1) menyebarkan pengajaran Agama Kanjeng Nabi Muhammad kepada penduduk Bumiputra di dalam residentie Yogyakarta. 2) Memajukan Hal Agama bagi anggota-anggotanya. Dilihat dari tujuan anggaran dasar, organisasi ini murni tidak berbau politik sehingga Dahlan tidak berbenturan dengan organisasi-organisasi yang telah diikutinya seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam.
Pada mulanya muhammadiyah merupakan gerakan abdi dalem santri , atau pegawai agama kraton. Sebagaimana yang disebutkan di atas bahwa Dahlan adalah seorang ketib (pemberi khotbah), fungsionaris Masjid Sultan, suatu jabatan yang dia warisi dari ayahnya. Sembilan anggota pengurus yang mendirikan Muhammadiyah yang diajukan bagi pengakuan penguasa Belanda pada tahun 1912 juga sebagian besar abdi dalem santri: tujuh diantaranya mempunyai gelar kebangsawanan mas atau raden ; tiga diantaranya abdi dalem santri (satu penghulu dan dua khotib) dan dua diantaranya dari pemerintahan umum (satu carik dan satu gebayan).
Pertama kali, Dahlan mencari pengikut bagi penyiarannya dikalangan priyayi muda, sebagaimana ditunjukkan oleh kenyataan bahwa dia masuk Budi Utomo, dan dia memberikan pelajaran Islam ekstra kurikuler kepada para pelajar Kweek School Gubermen di Jetis, Yogyakarta, dan para pelajar OSVIA (Sekolah Pamong Praja) di Magelang.
Dari hal-hal di atas Nakamura berkesimpulan bahwa Muhammadiyah Mulai Sebagai gerakan abdi dalem santri di Kasultanan Yogyakarta. Dahlan pertama kali mencoba memperbaharui kehidupan agama lingkungan kraton tetapi tidak berhasil. Dia mencari dukungan di kalangan priyayi muda melalui Budi Utomo. Dia juga mencoba memasukkan pikiran-pikirannya ke dalam Sarekat Islam. Dia memperoleh keberhasilan pada keduanya. Meskipun demikian sampai akhir athun 1910an aktifitas Muhammadiyah hanya terbatas di Kauman, Yogyakarta dan paling banter di karesidenan Yogyakarta.
2.      Permulaan Muhammadiyah di Kotagedhe
Nakamura pada pembahasan ini menjelaskan bahwa Pembentukan Muhammadiyah cabang Kotagedhe didahului pada awal tahun 1910an oleh berdirinya organisasi lokal, Syarekatul Mubtadi. Organisasi ini bertujuan untuk mendalami ajaran Islam,  untuk menguatkan kesadaran agama, untuk mencapai kemajuan dan untuk membangunkan ummat Islam. Organisasi ini berbeda dengan pesantren kala itu. Organisasi ini mengembangkan pendidikan untuk bapak-bapak dan ibu-ibu serta memberi perhatian yang sama antara laki-laki dan perempuan.
Syarekatul mubtadi mempunyai organisasi pendukung lain yaitu yayasan Mardhihartoko (yayasan untuk pengumpulan dana). Ia juga mendirikan organisasi pemuda lokal yang independent di Kotagedhe yaitu Krida Mataram. Organisasi pemuda ini menaruh perhatian yang sama terhadap beribadah dan bermain. Lalu Nakamura menjelaskan kondisi pemuda dan relasinya terhadap organisasi ini. Dan menjelaskan motif pembentukan organisasi ini sebagai konfederasi besar-besaran kelompok anak-anak kampung yang sebaya. Ini bisa dilihat dari nama “Krida” dalam bahasa Jawa yang artinya “mengerjakan sesuatu (bersama-sama). Mataram adalah kenyataan bahwa Kotagedhe merupakan Ibukota lama kerajaan Mataram.
Kemudian pada tahun 1921, ada tiga kelompok besar di Yogyakarta: Hizbul Wathan dari distrik kauman dengan 250 anggota, Wira Tamtama dari distrik pakualaman dengan 350 anggota dan Krida Mataram dari Kotagedhe dengan 250 anggota, seperti yang dilakukan oleh Syarekat Mubtadi dan Organisasi kecil lainnya bergabung dengan Muhammadiyah yang bermarkas di Kauman Yogyakarta. Kemudian organisasi-organisasi pemuda ini diberi nama dengan Hizbul Wathan pada tahun 1924.
3.      Konfrontasi dengan PKI
Nakamura pada pembahasan ini mengatakan bahwa pertentangan besar antara PKI dan Muhammadiayah adalah murni politik dan agama sejauh menyangkut kawasan lokal Kotagedhe. PKI menyokong tindakan langsung untuk menggulingkan rejim kolonial Belanda. Muhammadiyah, meskipun tidak kurang anti-kolonial, tidak membiarkan organisasinya terlibat dalam tindakan semacam itu. Pertentangan dramatis ini terungkap di dalam insiden perselisihan antara Muhammadiyah dan PKI bersamaan dengan kongres PKI yang diadakan di Kotagedhe tahun 1924.
Muhammadiyah fokus dalam bidang Agama sedangkan PKI fokus dalam bidang politik.
4.      Gerakan Sosial dan Agama
Di dalam penelitian Nakamura, Muhammadiyah tidak hanya bergerak dalam bidang Agama akantetapi juga merambah dalam bidang Sosial. Diantaranya Muhammadiyah mendirikan sekolah dan klinik sebagai representasi mengenai pandangan mereka tentang Islam yaitu Pendidikan agama adalah suatu keharusan: adalah merupakan kewajiban bagi orang Islam untuk mempelajari ajaran Tuhan sejak masa kanak-kanak sampai meninggal. Tidak hanya itu, Muhammadiyah menekankan perlunya kegiatan kesejahteraan sesama manusia dalam bentuk rumah sakit, klinik, rumah yatim dan lain-lain sebagai pelaksanaan kewajiban orang Islam. Pembayaran pajak agama untuk dibagikan langsung kepada fakir miskin dan sumbangan-sumbangan sukarela lebih lanjut untuk kegiatan-kegiatan pendidikan dan kesejahteraan ini termasuk melaksanakan kewajiban orang Islam.
Pada tahun 1910an Syarekatul Mubtadi mendirikan Sekolah Rakyat Angka Loro Muhammadiyah di Kotagedhe dengan menggunakan sebuah pendapa rumah pribadi sebagai kelasnya. Sekolah tersebut berhasil dan mendapatkan sumbangan tetap dan menerima pendaftaran sejumlah besar anak laki-laki dan perempuan. Kemudian pada tahun 1920an bertambah sebuah sekolah HIS (sekolah dasar enam tahun dengan bahasa pengantar Belanda) dan tidak lama kemudian juga dimualai sekolah putri yang mengkhususkan dalam masalah rumah tangga, menjahit dan mengasuh anak.
Sekolah-sekolah Muhammadiyah tersebar hampir keseluruh kota besar dan kecil di Jawa pada akhir tahun 1930an. Pentingnya pendidikan Muhammadiyah menjadi banyak. Pertama, membangkitkan kesadaran Nasional Indonesia melalui corak Islam. Kedua melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah, ideology pembaharuan Islam tersebar luas. Ketiga, meningkatkan penyebaran pengetahuan praktis sains modern.
Di samping sekolahan, PKU (Penolong Kesengsaraan Umat) merupakan bidang kegiatan sosial Muhammadiyah yang secara resmi dikembangkan. Dimulai tahun 1918 sebagai organisasi independent yang yang dibentuk oleh beberapa anggota Muhammadiyah di Yogyakarta untuk menangani kegiatan pertolongan darurat bagi korban letusan gunung Kelud. Pada tahun 1921 organisasi itu secara resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah.
Di Kotagedhe, satu klinik PKU didirikan pada akhir tahun duapuluhan melalui wakaf tanah dan bangunan oleh Haji Bakar dan beberapa anggota Muhammadiyah lain. Staf klinik terdiri dari sejumlah perawat yang terdidik serta seorang bidan dan klinik itu secara teratur dikunjungi oleh seorang dokter dari rumah sakit PKU Yogyakarta. Sampai sesudah kemerdekaan Indonesia, Klinik PKU Muhammadiyah merupakan satu-satunya fasilitas pengobatan modern lokal yang ada di Kotagedhe.
Kemudian pada permulaan akhir tahun duapuluhan, pembaharuan dalam pengumpulan zakat menjadi bagian dari program Muhammadiyah. Sebelum pembaharuan, zakat dalam bentun uang dan beras dikumpulkan oleh kaum, modin, naib dan penghulu dan dibagikan diantara mereka sendiri sebagai hadiah pelayanan agama mereka. Akantetapi Muhammadiyah menentang seperti itu dan melayangkan tuntutan kepada pemerintah karena hal tersebut dianggap menyimpang. Dan jumlah zakat yang ditentukan harus sesuai dengan Al-Qur’an. Kemudian tuntutan Muhammadiyah dipenuhi dan Zakat mulai dikumpulkan dan dibagikan sesuai dengan tuntutan Muhammadiyah.
C.    PENDEKATAN PENULIS DALAM PENELITIAN
Di dalam buku ini, penulis menjelaskan pergerakan Muhammadiyah yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan yang dimulai dari kompleks Kerajaan. Dalam kompleks kerajaan, dia tidak mendapatkan dukungan. Kemudian dia melanjutkan gerakan penyebaran faham agama di luar kompleks Kraton. Terutama saat itu pada golongan priyayi. Baru kemudian ia menyebarkan pada kaum muda Kotagedhe dan hal itu ternyata cukup berhasil. Tidak hanya itu, gerakan Muhammadiyah juga merambah dalam kawasan pendidikan dan sosial. Ini bisa dilihat dari pembentukan sekolah-sekolah dan klinik pengobatan masyarakat. Dalam menjelaskan gerakan Muhammadiyah, Nakamura menggunakan data-data sejarah sebagai pendukung analisisnya. Sebagaimana yang tertera dalam pembahasan sebelumnya yaitu dia menjelaskan gerakan Muhammadiyah berdasarkan urutan waktu.
Jadi dalam membicarakan gerakan Muhamadiyah di Kotagedhe Nakamura menggunakan pendekatan Antropologis atau pendekatan Etnografi dan menggunakan data-data sejarah. Dengan asumsi dasar Muhammadiayah merupakan sebuah organisasi Islam yang berkembang di dalam Masyarakat yang bergerak dalam bidang Agama dan Sosial untuk memurnikan Agama dari praktek-praktek yang menyimpang. [3]
Hal ini bisa dilihat dari pergerakan Muhammadiyah mulai dari kompleks Kraton oleh Ahmad Dahlan untuk merubah adat yang ada disana akantetapi tidak ada yang mendukungnya. Kemudian ia melanjutkan pergerakan ke luar kompleks kraton mulai dari kaum priyayi dan anak muda. Dan ternyata dia berhasil. Tidak hanya itu dia juga melakukan pergerakan dalam bidang sosial dan pendidikan. Dalam hal ini ia mencoba sistem pendidikan baru berbasis Islam Muhammadiyah dan menggunakan cara yang modern. Tidak hanya itu Muhammadiyah juga mendirikan sejumlah Rumah Sakit untuk kegiatan Sosial.
D.    KESIMPULAN
Penulis, Mitsuo Nakamura, dalam bukunya yang berjudul “Bulan Sabit Muncul dari Balik Ponon Beringin” menggunakan pendekatan Antropologis dan data-data sejarah dalam menjelaskan dan memaparkan Islam. dengan asumsi dasar: bahwasanya objek studi dari paradigma Islam sebagai realitas, seperti kondisi sosial umat Islam, kenyataan sejarah, perkembangan peradaban dan kebudayaan, dan kondisi politik dan ekonominya. Serta Islam merupakan agama yang yang tumbuh berkembang di dalam masyarakat yang berupa wujud praktek keagamaan.




DAFTAR PUSTAKA
Kuntowijoyo. Penjelasan Sejarah Historical explanation. Tiara Wacana Yogyakarta. 2008
Nakamura, Mitsuo. Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin. (Gajah Mada University Press: Yogyakarta, 1983)
Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam. (PT Raja Grafindo Persada; Jakarta, 2011).
Nurhakim, Moh.. Metodologi Studi Islam. (UMM Press: Malang, 2004).


[1] Seorang peneliti asal jepang yang tertarik mengenai pergerakan Islam di Indonesia. Dia mengadakan penelitian pada tahun 1970-1972mengenai pergerakan Muhammadiyah di Indonesia. Kemudian Hasil penelitiannya yang berupa buku diterbitkan dengan judul “Bulan Sabit  Terbit dari Balik Pohon Beringin”.
[2] Mantan Menteri Agama RI  pada Kabinet Pembangunan I dan II. Ia juga terkenal sebagai Ulama ahli perbandingan agama yang meletakkan kerangka kerukunan antarumat beragama di Indonesia sesuai dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika. Ia diminta Mitsuo Nakamura memberikan pengantar untuk bukunya yang berjudul “Bulan Sabit Terbit dari Balik Pohon Beringin”.
[3]Abuddin Nata. Metodologi Studi Islam. (PT Raja Grafindo Persada; Jakarta, 2011). Hlm. 35.

No comments:

Post a Comment

Pendekatam Pengkajian Islam : Analisis Buku "Bulan Sabit Terbit Dari Balik Pohon Beringin"

A.     PENDAHULUAN Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin, merupakan sebuah judul buku hasil penelitian terhadap pergerakan Muhamm...