A.
ANALISIS
DATA DAN PENULISAN TEORI
Konsep
Analisis Data
Analisis
Data Kualitatif (Bogdan, Biklen, 1982) adalah upaya yang dilakuakan dengan
ajalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi
satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola,
menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang
dapat diceriterakan kepada orang lain.
Di
pihak lain, Analisis Data Kualitatif (seiddel, 1998), prosesnya berjalan
sebagai berikut:
·
Mencatat
yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya
tetap dapat ditelusuri.
·
Mengumpulkan,
memilah-milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan, membuat ikhtisar, dan
membuat indeksnya.
·
Berpikir,
dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari dan
menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan membuat temuan-temuan umum.
Selanjutnya menurut Jonice McDrury
(Collaborative Group Analysis of Data, 1999) tahapan analisis data kualitatif
adalah sebagai berikut.
·
Membaca/mempelajari
data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data.
·
Mempelajari
kata-kata kunci itu, berupaya menemukan tema-tema yang berasal dari data.
·
Menuliskan
model yang ditemukan.
·
Koding
yang telah dilakukan.
Dari definisi-definisi
tersebut dapatlah kita pahami bahwa ada yang mengemukakan proses, ada pula yang
menjelaskan tentang komponen-komponen yang perlu ada dalam sesuatu analisis
data.
1.
Pemrosesan
a.
Tipologi
Satuan
b.
Penyusunan
Satuan
2.
Kategorisasi
a.
Fungsi
dan prinsip Kategorisasi
b.
Langkah-langkah
Kategorisasi
3.
Penafsiran
Data
a.
Tujuan
penafsiran data
b.
Proses
umum penafsiran data
c.
Peranan
hubungan kunci dalam penafsiran data
d.
Peranan
interogasi terhadap data
e.
Langkah-langkah
penafsiran data dengan menggunakan Metode Analisis komparatif dalam rangka
Penyusunan teori substantif.
B.
MODUS
ANALISIS DATA
1.
Hermeneutik
Hermeneutika
berkaitan dengan pemaknaan suatu analog-teks (contoh analog teks adalah
organisasi, dalam hal ini peneliti datang kemudian memahaminya secara lisan dan
data tekstual). Pertanyaan dasar adalah : apa arti teks itu? Hal itu berarti
interpretasi, dalam hal yang relevan dengan hermeneutik, adalah upaya untuk
membuat jelas, membuat sesuatu memiliki makna sesuatu objek studi. Karena itu
objek itu harus dalam bentuk teks, atau analog teks, yang biasanya kabur,
remang-remang, kadang-kadang bertentangan satu dengan lainnya. Interpretasi
bermaksud agar yang tidak jelas menjadi jelas dalam suatu pemahaman yang
berarti.
2.
Semiotik
Semiotik
berkaitan dengan makna dari tanda dan simbol dalam bahasa. Gagasan penting
adalah kata-kata atau tanda dapat ditugaskan terutama kepada kategori
konseptual, dan kategori ini merepresentasikan aspek-aspek penting dari suatu
teori yang akan diuji. Pentingnya ide itu adalah mengungkapkan frekuensi yang
muncul dalam teks. Salah satu contohnya adalah analisis konten.
3.
Narasi
dan Metafora
Narasi
didefinisikan sebagai dongeng, ceritera, tayangan fakta, yang diceriterakan pada orang pertama. Ada
berbagai macam cara narasi, ada narasi lisan sampai pada narasi sejarah.
Metafora adalah aplikasi nama atau deskripsi frasa atau istilah pada suatu
objek atau tindakan yang tidak diaplikasikan secara sebenarnya.[1]
C.
MODEL-MODEL
ANALISA
Crabtree dan Miller (1992) mengamati ada
banyak strategi analisis kualitatif. Mereka sudah mengenal empat pola analisa
utama yang lebih tepat sasaran, sistematis, dan distandardisasi, dan pada
ekstremum lain adalah satu model yang lebih yang intuitif, hubungan, dan
interpretive. empat prototypical model-model yang mereka uraikan adalah sebagai
berikut:
1.
“Model
Quasi-statistical”. Peneliti menggunakan statistik
secara khas mulai dengan pertimbangan analisa, dan menggunakan ide-ide untuk
memilih jenis data. Pendekatan ini adalah kadang dikenal sebagai analysis
peneliti meninjau ulang isi dari data naratif, mencari-cari tema atau kata
tertentu yang telah ditetapkan dalam suatu codebook. Hasil pencarian adalah
informasi yang dapat digerakkan secara statistik dan disebut Quasi statistik.
Sebagai contoh, analis dapat menghitung frekwensi kejadian dari tema-tema
spesifik. Model ini adalah serupa dengan pendekatan kwantitatif tradisional
sampai melakukan analisa isi.
2.
“Model
Analisa Template”. Di model ini, peneliti mengkembangkan analisa cetakan
untuk data naratif yang digunakan. Unit-unit template adalah secara khas
perilaku-perilaku, kejadian, dan ungkapan ilmu bahasa. Template lebih mengalir dan
dapat menyesuaikan diri dibanding suatu codebook di dalam model Quasi
statistik. Peneliti dapat mulai dengan template bersifat elementer sebelum
mengumpulkan data, template mengalami revisi tetap sebanyak data dikumpulkan.
Analisa menghasilkan data. Model jenis ini adalah bisa dipastikan diadopsi oleh
peneliti yang biasa meneliti etnografi, etologi, analisa ceramah, dan
ethnoscience.
3.
“Model
Analisa Editing” . Peneliti menggunakan model editing bertindak sebagai
interpreter yang membaca sampai habis data mencari segmen-segmen penuh arti dan
unit-unit. Suatu ketika segmen ini dikenali dan ditinjau, interpreter
dikembangkan satu rencana pengelompokan dan kode-kode sesuai yang dapat
digunakan untuk memilih jenis dan mengorganisir data. Peneliti kemudian mencari-cari
struktur dan pola-pola yang menghubungkan kategori-kategori pokok. Pendekatan
teori yang khas menyertakan model ini. Peneliti-peneliti yang biasa meneliti
fenomenologi, hermeneutics, dan ethnomethodology menggunakan prosedur pola
analisa editing.
4.
“Model
Immersion/crystallisasi”. Model ini melibatkan pembaptisan total analis di
dalam dan cerminan bahan-bahan teks, menghasilkan satu kristalisasi data yang
intuitif. Terjemahan yang interpretive dan subjektif dicontohkan dalam laporan
kasus pribadi dari semi anekdot dan jumlah sedikit ditemui di dalam literatur
riset dibanding tiga model yang lain.
D.
PROSES
ANALISA
Analisa
dari data kualitatif secara khas adalah satu proses yang interaktip dan aktif.
Peneliti-peneliti kualitatif sering membaca data naratif mereka berulang-ulang
dalam mencari arti dan pemahaman-pemahaman lebih dalam. Morse dan Field (1995)
mencatat bahwa analisis kualitatif adalah proses tentang pencocokan data
bersama-sama, bagaimana membuat yang samar menjadi nyata, menghubungkan akibat
dengan sebab. Yang merupakan suatu proses verifikasi dan dugaan, koreksi dan
modifikasi, usul dan pertahanan.
Beberapa
kaum intelektual memainkan peran dalam analisis kualitatif. Morse dan Field
(1995) mengenali empat proses-proses:
1.
Memahami
Awal
proses analitik, peneliti-peneliti kualitatif berusaha untuk bisa
mempertimbangkan data dan belajar mencari ” apa yang terjadi.” Bila pemahaman
dicapai, peneliti bisa menyiapkan cara deskripsi peristiwa, dan data baru tidak
ditambahkan dalam uraian. Dengan kata lain, pemahaman diselesaikan bila
kejenuhan telah dicapai.
2.
Sintesis
Sintesis
meliputi penyaringan data dan menyatukannya. `Pada langkah ini, peneliti
mendapatkan pengertian dari apa yang “khas” mengenai suatu peristiwa dan apa
variasi dan cakupannya. Pada akhir proses sintesis, peneliti dapat mulai
membuat pernyataan umum tentang peristiwa mengenai peserta studi.
3.
Teoritis
Meliputi
sistem pemilihan data. Selama proses teori, peneliti mengembangkan penjelasan
alternatif dari peristiwa dan kemudian menjaga penjelasan ini sampai menentukan
apakah “cocok” dengan data. Proses teoritis dilanjutkan untuk dikembangkan
sampai yang terbaik dan penjelasan paling hemat diperoleh.
4.
Recontextualisasi
Proses
dari recontextualisasi meliputi pengembangan teori lebih lanjut dan
aplikabilitas untuk kelompok lain yang diselidiki. Di dalam pemeriksaan
terakhir pengembangan teori, adalah teori harus generalisasi dan sesuai
konteks.[2]
E.
TEKNIK
ANALISIS KUALITATIF
1.
Teknik
Analisis Isi (Content Analysis)
Teknik ini merupakan strategi
verifikasi kualitatif, teknik analisis data ini dianggap sebagai teknik
analisis data yang sering digunakan. Artinya teknik ini adalah yang paling
abstrak untuk analisis data-data kualitatif. Secara teknik, content analysis
mencakup upaya-upaya, klasifikasi lambang-lambang yang dipakai dalam
komunikasi, menggunakan kriteria dalam klasifikasi, dan menggunakan teknik
analisis tertentu dalam membuat produksi. Analisis ini sering digunakan dalam
analisis-analisis verifikasi. Cara kerja atau logika analisis ini sesungguhnya
sama dengan kebanyakan analisis data kualitatif. Peneliti memulai analisis
dengan menggunakan lambang-lambang tertentu, mengklasifikasi data tersebut
dengan kriteria-kriteria tertentu serta melakukan prediksi dengan teknik
analisis yang tertentu pula.
2.
Teknik
Analisis Domain (Domain Analysis)
Analisis domain digunakan untuk
menganalisis gambaran objek peneliti secara umum atau di tingkat permukaan,
namun relatif utuh tentang objek penelitian tersebut. Teknik analisis ini
terkenal sebagai teknik yang dipakai dalam penelitian yang bertujuan
eksplorasi. Artinya, analisis hasil penelitian ini hanya ditargetkan untuk
memperoleh gambaran seutuhnya dari objek yang diteliti, tanpa harus
diperincikan secara detail unsur-unsur yang ada dalam keutuhan objek penelitian
tersebut.
Seorang peneliti misalnya
menganalisa lembaga sosial, maka domain atau kategori simbolik dari lembaga
sosial antara lain: keluarga, perguruan tinggi, rumah sakit. Sehubungan dengan
kemungkinan bervariasinya domain, maka disarankan menggunakan hubungan semantik
(semantik relationship) yang bersifat universal dalam analisis domain, yakni:
a.
Jenis,
b.
Ruang,
c.
Sebab
akibat,
d.
Rasional,
e.
Lokasi
kegiatan,
f.
Cara
ke tujuan,
g.
Fungsi,
h.
Urutan,
i.
Atribut.
Terdapat
6 langkah dalam mengaplikasikan analisis domain, yakni:
a.
Memilih
pola hubungan semantik tertentu atas dasar informasi atau fakta yang tersedia
dalam catatan harian peneliti di lapangan,
b.
Menyiapkan
kerja analisis domain,
c.
Memilih
kesamaan-kesamaan data dari catatan harian peneliti di lapangan,
d.
Mencari
konsep-konsep induk dan kategori-kategori simbolik dari tertentu yang sesuai
dengan suatu pola hubungan semantik,
e.
Menyusun
pertanyaan-pertanyaan struktural untuk masing-masing domain,
f.
Membuat
daftar keseluruhan domain dari seluruh data yang ada.
3.
Teknik
Analisis Taksonomi (Taksonomi Analysis)
Teknik analisis domain memberikan
hasil analisis yang luas dan umum, tetapi belum terperinci serta masih bersifat
menyeluruh. Apabila yang diinginkan adalah suatu hasil dari analisis yang
terfokus pada suatu domain atau sub-sub domain tertentu maka peneliti harus
menggunakan teknik analisis taksonomi. Teknik ini terfokus pada domain-domain
tertentu, kemudian memilih domain tersebut menjadi sub-sub domain serta
bagian-bagian yang lebih khusus dan terperinci, yang umumnya merupakan satu
rumpun yang memiliki kesamaan. Hal yang perlu diketahui pula bahwa banyak
sedikit pecahan-pecahan domain menjadi subdomain dan seterusnya, tergantung
pada kompleksnya domain itu sendiri atau tergantung pada peneliti mengembangkan
kompleksitas domain tertentu.
4.
Teknik
Analisis Komponensial (Componential Analysis)
Teknik analisis komponensial adalah
teknik analisis yang cukup menarik dan paling mudah dilakukan karena
menggunakan “pendekatan kontras antarelemen”. Kedua teknik analisis tersebut pada
umumnya digunakan dalam ilmu-ilmu sosial karena dua cara ini adalah yang
termudah untuk gejala-gejala sosial. Teknik analisis komponensial secara
keseluruhan memiliki kesamaan kerja dengan teknik analisis taksonomik, hal yang
membedakan kedua teknik analisis ini hanyalah pada pendekatan yang dipakai oleh
masing-masing teknik analisis.
Teknik analisis komponensial
digunakan dalam analisis kualitatif untuk menganalisis unsur-unsur yang
memiliki hubungan-hubungan yang kontras satu sama yang lain dalam domain-domain
yang telah ditentukan untuk dianalisis secara lebih terperinci. Kegiatan
analisis dapat dimulai dengan menggunakan beberapa tahap yaitu: (a) penggelaran
hasil observasi dan wawancara; (b) pemilihan hasil observasi dan wawancara; dan
(c) menemukan elemen-elemen kontras.
5.
Teknik
Analisis Tema Kultural (Discovering Cultural Themes Analysis)
Teknik analisis tema memiliki
bentuk yang sama dengan teknik analisis domain, tetapi muatan analisis berbeda
dengan yang tersirat dalam nama masing-masing teknik tersebut. Teknik analisis
tema mencoba mengumpulkan sekian banyak tema-tema, fokus budaya, etos budaya,
nilai dan simbol budaya yang terkonsentrasi pada domain-domain tertentu.
Selain itu, analisis tema berusaha
menemukan hubungan-hubungan yang terdapat pada domain-domain yang dianalisis
sehingga akan membentuk suatu kesatuan yang holistik, dalam suatu complex
pattern yang akhirnya akan menampakkan ke permukaan tentang tema-tema atau
faktor yang paling mendominasi domain tersebut dan mana yang kurang mendominasi.
Ada beberapa hal yang secara prinsip paling menonjol pada analisis ini yaitu
dalam melakukan analisis. Peneliti harus kegiatan sebagai berikut:
a.
Peneliti
harus mampu melakukan analisis komponensial antar domain,
b.
Membuat
skema sarang laba-laba untuk dapat terbentuk pada domain satu dengan lainnya,
c.
Menarik
makna dari hubungan-hubungan yang terbentuk pada masing-masing domain,
d.
Menarik
kesimpulan secara universal dan holistik tentang makna persoalan sesungguhnya
yang sedang dianalisis.
Sebelum hasil analisis ini dibuat
dalam sebuah laporan, maka peneliti sekali lagi harus melakukan komparasi hasil
analisisnya dengan berbagai macam literatur yang ada serta kelompok atau
masyarakat lain sehubungan dengan persoalan yang ditelitinya.
6.
Teknik
Analisis Komperatif Konstan (Constant Comperatif Analysis)
Teknik ini adalah yang paling
ekstrim menerapkan strategi analisis deskriptif. Dikatakan ekstrim karena
teknik ini betul-betul menerapkan logika induktif dalam analisisnya, hal
tersebut jarang kita jumpai dalam penelitian-penelitian sosial. Esensinya bahwa
teknik analisis komparatif adalah teknik yang digunakan untuk membandingkan
kejadian-kejadian yang terjadi pada saat peneliti menganalisa kejadian tersebut
dan dilakukan secara terus-menerus sepanjang penelitian ini dilakukan.
Langkah-langkah dalam teknik komparatif konstan, yakni:
a.
Tahap
membandingkan kejadian yang dapat diterapkan pada tiap kategori,
b.
Tahap
memandukan kategori dan ciri-cirinya,
c.
Tahap
membatasi lingkup teori,
d.
Tahap
menulis teori,
e.
Peneliti
harus memublikasikan teori yang ditemukannya dengan penuh keyakinan.
7.
Analisis
Induksi (Induction Analysis)
Pengujian intensif pada strategi
yang memilih beberapa kasus yang di bangun dengan pengalaman menyebabkan suatu
fenomena. Analisis induksi ini digunakan untuk mengeliminasi kasus negatif.
Langkah-langkah dari analisis induksi, yakni:
a.
Definisi
kasar dari fenomena harus sudah dirumuskan,
b.
Salah
satu masalah diuji dengan apakah obyektif atau tidak hipotesis sesuai dengan
hasil fakta observasi,
c.
Jika
hipotesisi tidak sama atau hipotesis ditulis ulang atau fenomena yang
dijelaskan didefinisikan ulang kasus itu ditiadakan,
d.
Prosedur
dari pengujian suatu kasus dan di luar kasus negatif dari formulasi hipotesis
atau fenomena yang didefinisikan ulang dilanjutkan sampai hubungannya ada.[3]
DAFTAR
PUSTAKA
Lexy
J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Pt Remaja Rosdakarya,
Bandung:2009).
http://rahmiwati.net/analisis-data-kualitatif.html
http://masimamgun.blogspot.com/2010/06/analisis-data-kualitatif.html
No comments:
Post a Comment